Welcome Back to Japan!

Harapan, keyakinan dan doa di hari ini adalah kenyataan di masa depan..

Genggam erat mimpimu..

Biarkan ia menjadi visi yang menjiwai setiap langkahmu ke depan..

Dan Membuat langkahmu Tegap tak tergoyahkan..

Masih sangat teringat jelas dalam benak ini. 6 setengah tahun yang lalu, ketika kaki akan melangkah meninggalkan negeri sakura setelah selesai menyelesaikan sebuah program pertukaran pelajar; AFS yang penuh pengalaman hidup. Saat itu ada sebuah  harapan untuk kembali ke negeri ini. Negeri yang bagiku adalah negeri antah berantah yang begitu nyaman penuh keteraturan. Dan berbekal rasa penasaran untuk menimba ilmu dari negara yang sudah lebih dahulu maju ini, maka ketika ada kesempatan untuk menempuh beasiswa studi ke sana, saya tidak sia-siakan.

Alhmdulillah, ikhtiarku yang sebenarnya biasa-biasa saja ternyata dipertemukan dengan takdirNya.

Maka tanggal 3 Oktober lalu, dengan pesawat JAL JL726, saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta. Bersama para pejuang akademik lainnya, kami berpisah dengan keluarga di tanah air dan menatap langit penuh tantangan ke negeri Sakura. Sebuah kesempatan yang saya pun tak menyangka akan menerimanya seawal ini, yaitu sebagai penerima beasiswa MONBUKAGAKUSHO/MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang). Saya ditempatkan di Kyushu University (Kyuudai), universitas ketiga yang paling banyak dituju oleh mahasiswa asing di Jepang. Lokasinya di Kota Fukuoka, sebuah kota besar di pulau Kyushu. Saya memperoleh beasiswa sebagai research student selama setahun dan selanjutnya program S2 yaitu program MBA di Kyushu University Business School (QBS) selama dua tahun.

Tanggal 4 Oktober 2010 pagi hari, aku tiba di Bandara Narita, Tokyo yang tepatnya ada di Chiba-ken, lalu lanjut ke penerbangan domestik ke Fukuoka. Sebuah kota yang saya yakin Allah telah memilihnya sebagai lokasi terbaik untuk saya tuju. Dan benarlah, dibanding Tokyo, Fukuoka memang lebih tenang. Dan komunitas muslim di kota ini juga cukup banyak, bahkan terdapat mesjid Fukuoka yang dapat ditempuh sekitar sepuluh menit naik sepeda dari kampus. Subhanallah.. benar-benar kota dan kampus pilihanNya.

Maka ditemani dengan sepeda putih, aktivitasku dari asrama ke kampus pun dimulai. Syukurlah hanya sekitar 15 menit naik sepeda. Seperti halnya di Tokyo dulu, hingga saat ini, aktivitas bersepeda di tengah udara Fukuoka yang bersih serta suasana kota yang aman, masih menajdi aktivitas favoritku. Meski Jepang sudah modern, sepeda memang sangat mudah ditemukan disana-sini. Dan sangat nyaman untuk mobilitas sehari-hari. Alhamdulillah,, lagi-lagi aku merasa banyak sekali bantuan berdatangan selama berada di sini, mulai teman seasrama Mbak Fatma yang juga orang indonesia di kamar sebelah yang suka masak bersama, lalu mbak Dewi-suami-dan Arfan-kun yang memberiku gambaran bagaimana menempuh studi sementara punya 1 anak batita, lalu profesor ku Iwata sensei yang sangat kooperatif dan perhatian sekali dalam membimbingku, serta tutor ku Yamada-san yang memberi guidance dan persiapan menuju tes masuk S2. Selain itu, di mesjid pun bertemu dengan teman2 muslimah dari berbagai negara yang menginspirasi dengan kasih sayang mereka. Doa-san dari mesir, Ruba-san dari bangladesh, Najia-san, Sakina-san, Hitomi-san, dan Kaori-san yang merupakan mualaf asal Jepang, membuatku merasa melihat makin luasnya dunia dipenuhi rahmat Nya di mana-mana. Subhanallah..

Saat ini, untuk bisa memulai program S2 di bulan April 2011, maka saya harus melewati tes masuk S2 terlebih dahulu. Maka sebenarnya masa research student adalah masa persiapan menuju S2 yang diisi dengan pendalaman bahasa Jepang serta persiapan tes masuk S2. Setelah mengisi formulir dan membuat karangan dalam bahasa Jepang 4 halaman, Bulan november tgl 6 dan 7 nanti akan ada tesnya untuk MBA-QBS. hmm.. tesnya berupa wawancara dalam bahasa Jepang dan tes tertulis bahasa Inggris. hmm.. Bismillah,, semoga dipermudah,,

Memang masalah bahasa adalah yang cukup perlu diantisipasi. Karena sebagian besar mata kuliah akan diajarkan dalam bahasa Jepang. Dengan huruf kanjinya yang luar biasa barang baru bagi orang indonesia. Tapi syukurlah saat pertukaran pelajar AFS dulu saya sudah membawa oleh-oleh sertifikat JLPT N2 dan saat ini ada pendalaman bahasa Jepang juga di kampus. Kendala bahasa masih bisa teratasi. Yang kemudian harus dijaga adalah, masalah mental kita sendiri. Harus ada keyakinan bahwa kita mampu menempuh program dan lulus pada waktunya. Karena bagaimanapun untuk level S2, bahasa Jepang yang digunakan adalah level akademik. Sehingga butuh bekal bahasa yang cukup untuk penyerapan ilmu yang optimal. Sementara saat ini kondisi bahasa Jepang saya tentunya sudah banyak menurun di banding 6,5 tahun lalu. Tapi insya Allah perlahan tapi pasti akan bertambah terus seiring ikhtiar dalam belajar yang dilakukan. Berteman dengan banyak orang Jepang dan membiasakan diri untuk berhadapan dengan teks bahasa Jepang akan mempercepat kemampuan bahasa kita. hmm.. saat ini pun saya sangat penasaran untuk bisa membaca textbook bahasa Jepang yang penuh huruf kanji, semoga di bulan April 2011 nanti saya sudah berprogress signifikan. Hmm.. so challenging..

Di hari ini pun, sebuah pertemuan dengan Dean of Economic Faculty Kyuudai, beliau memberi pesan yang sangat membekas dan sangat meng-encourage. Yang dari sorot matanya terdapat keyakinan terhadap saya dan kebanggaan akan keberadaan saya di fakultasnya. Mahasiswa asing yang datang dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah Jepang memang dianggap sebagai mahasiswa yang istimewa oleh mereka. Semoga saya tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya.

Maka, berangkat dan melangkah ke sini, adalah untuk sebuah kemajuan dan prestasi. Untuk sebuah pembuktian bahwa waktu yang telah diberikanNya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bukan untuk kesia-siaan dan kekhawatiran. InsyaAllah semoga Allah selalu membimbing langkah kaki ini.. Dan menjadikan setiap titik ilmu yang didapat di negeri ini menjadi bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri namun juga banyak orang di Indonesia dan di dunia. Amin..

at the corner of Keizai gakubu, Kyuudai

-2 weeks before Nyuugaku shiken-

Fukuoka City

Mesjid An-Nuur Fukuoka yang baru diresmikan bulan April 2009 lalu

Kyushu University Hakozaki Campus

8-8-2010 :Ketika Hari Itu Bertajuk `Pernikahan`

Ketika dua hati telah dihimpun atas dasar iman

Maka tak akan ada yang mampu memutusnya

Kecuali iman itu telah tercabut dari hatinya..

Rasanya universitas kehidupan ini bergulir dengan begitu dinamisnya dan unpredictable. Banyak hal yang datang mengisi indahnya kehidupan ini yang kesemuanya adalah berisi anugerah Allah saja. Episode demi episode silih berganti berdatangan menghampiri. Satu persatu check list perencanaan hidup terjalani. Semua episode ini adalah karena kehendakNya semata. Termasuk sebuah episode kehidupan yang bernama pernikahan..

Mungkin salah satu alasan Allah membuatku salah menuliskan kode soal saat SPMB (selain karena bakatku bukan di kedokteran) adalah bahwa Allah bermaksud mempertemukanku dengan seseorang yang akan menjadi imam dalam hidupku. Dengan gagal SPMB aku masuk ke kampus yang masuk ke list kampus cadangan, IT Telkom. Yang aku terus berhusnudzon bahwa Allah sudah menyiapkan rencana yang lebih baik daripada rencana seorang anak ingusan bernama Herpin=) Maka benarlah, banyak sekali hal-hal indah dan luar biasa yang berada di luar kemampuanku yang terwujud saat berkuliah di kampus ini. Yang membuat ku semakin `berdecak kagum`akan kuasaNya.. prestasi akademis dan aneka kompetisi, berkesempatan pertukaran mahasiswa, membangun enterprise, berada di tengah orang2 yang begitu mencintai Mesjid dan Qur`an, mendapat beasiswa S2 ke Jepang, dan bahkan anugerah pernikahan. semuanya benar-benar hanya karena Allah yang memberikan jalan dan anugerahNya.. subhanallah..

Kali ini izinkan saya untuk meng-highlight mengenai pernikahan.

Pada tanggal 8 Agustus 2010 (8-8-10) pukul 8 s.d 10 di mesjid UI Depok alhamdulillah telah dilangsungkan akad nikah sederhana.  Sebuah hari yang sayapun tidak menyangka ternyata Allah telah menetapkan hari itu menjadi hari sakral itu. Saya rasa prosesnya cukup unik karena hanya sekitar tiga mingguan sejak pertama kali saya memulai proses taaruf (menerima biodata) dengan Sang ikhwan hingga hari akad nikah.

Beliau datang justru ketika saya sedang berpasrah diri tentang siapa dan kapan saya akan menikah. Saya serahkan semuanya pada Allah. Karena seperti apapun target yang telah kita pasang, meski sekitar dua bulan lagi saya sudah harus ke Jepang, hanya Allah yang tahu waktu yang terbaik. Saya ridho saja dengan ketentuan Allah. Entah jodoh saya ada di sini, atau ada di Jepang, baik orang Indonesia maupun orang Jepang, maka saya ikhlaskan semuanya. Karena Allah yang telah menetapkan semuanya. Saya merasa memenuhi pikiran dengan harapan ingin menikah akan membuat diri tidak produktif. Maka saya sibukkan diri dengan hal-hal lain yang produktif dan kontributif  dan mentralkan pikiran saya. Karena ini adalah hal yang hanya Allah saja yang berhak memutuskan. Bukan kita.

Maka, ternyata, justru di saat itulah justru dimulai proses yang sakral itu. Saya mendapat rekomendasi dari Ustadzah bahwa ada Ikhwan yang dirasa cocok dengan kriteria yang diinginkan dan pastinya baik di mata ustadzah. Kriteria saya pun tidak neko2. Dalam doa, yang seringkali saya ucapkan adalah “Ya Allah, izinkan saya untuk dipertemukan dengan PejuangMu yang sesungguhNya”. Bukan harus mereka yang ber IPK tinggi, atau berpenghasilan tinggi, ataupun pernah ke luar negeri. Saya sangat paham bahwa saya masih sangat kurang dalam hal Qur`ani, maka terutama ketika saya merasa di satu waktu sangat sulit menghafal Qur`an, sempat terucap dalam doa yang sngat dalam. Ada pengaharapan besar untuk dapat dimudahkan menghafal Qur`an. Karena rasanya prestasi2 duniawi yang mungkin saat ini telah Allah anugerahi, akan tidak ada apa2nya dibandingkan dengan perjuangan orang-orang yang menghafal Qur`an. Maka mengerucutlah keinginan saya tentang seperti apa sebaiknya pendamping saya nanti, dan itu saya tuangkan dalam kriteria yang saya harapkan yaitu penghafal Qur`an. Tidak harus 30 Juz, namun minimal beliau secara konsisten menghafal dan menjaga hafalan. Ini bukan perjuangan mudah terlebih lagi bagi yang hidup di dunia yang heterogen. Terlebih bagi laki2 yang banyak sekali godaan disana sini. Minimal mereka yang (insyaAllah) serius menjaga dirinya dengan hafalan Qur`an adalah orang-orang yang serius menjaga diri dari maksiat, bahkan sekecil apapun. Meski tak mungkin lepas dari kesalahan karena iapun bukan malaikat. Maka saya rasa, saya membutuhkan Imam dengan kriteria seperti ini, yang insyAllah bisa membimbing saya menuju akhirat yang dicita-citakan. Saya sangat yakin, dengan kriteria seperti apa kita memilih pendamping hidup, maka akan menentukan sisa kehidupan kita maupun kehidupan di akhirat kelak. Karena kemungkinan 50 tahun ke depan kita akan terus bersama dia, bahkan terus hingga di alam syurga nanti. Mengenai masalah dunia? InsyaAllah masalah dunia adalah hal yang DIJAMIN oleh Allah bagi orang-orang yang benar-benar berjuang menjadi orang yang mencari ridhoNya. Maka melihat diennya adalah nomor satu. InsyaAllah setelahnya Allah akan memudahkan termasuk masalah rizki.

Bisa jadi harapan ini hanya lah harapan, karena saya juga bukan siapa2 dalam dunia tahfidz Qur`an. Hafalan masih sangat sedikit sekali, maka entahlah Allah akan mengabulkan harapan ini atau tidak. Rasanya tidak pantas juga jika diri ini berharap yang terlalu tinggi sementara diri masih begini2 saja. Tapi Benar-benar Subhanallah.. ternyata, Langit menghendaki (InsyAllah) apa yang ada di hati saya. Dan ternyata ada orang yang seperti itu yang ternyata dengan tekad bulatnya mengajukan diri meminang saya dan menerima saya apa adanya. Meski beliau tahu saya kemungkinan besar akan meninggalkan dalam waktu 3 tahun ke depan. Hmm pilihan yang tak mudah memang. Tapi.. Ia bersedia menjalani. Mohammad Deni Akbar. Begitulah namanya. Subhanallah.

Prosesnya cukup mulus meski ada sedikit kekagetan di pihak keluarga karena waktunya sangat singkat. Tapi karena memahami alasannya, yaitu untuk menjalankan hal yang prinsip, dan betapa berkahnya nilai sebuah pernikahan bagi mereka yang telah mampu, maka alhamdulillah keluarga mengizinkan diadakannya akad nikah tgl 8 Agustus 2010 di mesjid UI. Ikhwannya adalah orang yang sebenarnya saya tahu namanya dan tahu orangnya karena dulu ketua SKI (kerohanian kampus). Meski satu kampus, rasanya kami tidak pernah bekerja sama langsung dalam sebuah tim dan sebagainya. Ajaib memang. Kami friend di fb, tapi tidak pernak kontak, dan saya cukup kenal dengan teman sekitarnya bahkan teman baiknya adalah kawan SMP-SMA saya. Tapi kami tidak pernah kenal secara langsung. Subhanallah.. mungkin ini cara Allah menjaga kami, supaya tidak ada tendensi dan subjektivitas sebelumnya.. Maka ketika shalat istikharah pun, aku pasrahkan semuanya, dan memohonkan biar Allah saja yang memberikan isyarat jika memang beliau adalah jodohku. Dan, ajaibnya, memang banayk tanda2 yang Allah kirimkan ketika shalat, ayat yang ditemui ketika baca Qur`an, bahkan nasyid yang diputar tanpa sengaja. Semua jawaban mengarah ke kata POSITIF. Saya sengaja tidak bertanya ke orang2 yang dikenal mengenai beliau. Agar proses ini terjaga, dan juga tidak menggunakan penilaian subjektif dari kacamata manuasia. Baru ketika sudah positif akan akad, saya baru mulai bertanya kepada teman tentang beliau. Agar proses mengenal karakter satu sama lain setelah menikah bisa terjadi lebih lancar.

Alhamdulillah.. Sungguh tak menyangka, ternyata episode kehidupan ini terlewati pula. Dan bagaimana kehidupan setelah menikah? Allah menunjukkan banyak sekali kebaikan akhlaq, kebiasaan ibadah, yang saya rasa cukup jarang saya temukan di sekitar saya sebelumnya. Alhamdulillah bisa menjadi teladan yang sangat baik. Untunglah dulu saya belum mengenal beliau langsung. =) Segala kekurangan di antara satu kami kami terima apa adanya. Saling memahami dan mengerti. Rasa damai begitu terasa di hati. Saya baru mulai memahami apa arti sakinah (tenteram) yang didoakan di tiap pernikahan kebanyakan orang. Semoga kami diberi keistiqomahan meniti jalan yang indah ini.

Di awal pun, saya sangat excited membayangkan bagaimana selanjutnya pernikahan dua orang yang belum mengenal karakternya satu sama lain. Ternyata hal tersebut tidaklah perlu dipikirkan dengan logika atau ditakutkan berlebihan. karena kita memilih karena Allah, berdasar penilaian Allah, maka Allah pun yang akan memudahkan jalan ke depannya. Semua berjalan sangat alamiah. Momen Ramadhan, Momen lebaran, bahkan momen suami yang sempat sakit typhus (mungkin lelah menyiapkan pernikahan yang begitu singkat waktunya)、menjadi momen yang mendekatkan kami dan semakin mengenalkan diri kami hingga ke sisi yang terdalam. Karakternya pun saling melengkapi. Yang satu sangat menekankan komunikasi, yang satu menekankan hal-hal logis matematis. Yang satu lomba pidato bahasa inggris, yang satu olimpiade matematika. sungguh perpaduan yang unik.

Sampai hari ini pun kami masih takjub dengan anugerah ini. Hal yang dalam roadmap hidupku tertulis menikah di bulan September 2010,  ternyata Allah mengizinkan di bulan agustus 2010. Tentunya pernikahan ini adalah poin yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia, terlebih bagi seorang muslim. Karena ini berarti menggenapkan setengah dien dalam diri kita. Alias menyempurnakan agama dalam diri kita. Tiada kata lain kecuali bahagia dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajah penuh kesyukuran. Syukur karena kami mengakhiri status lajang kami dengan ending yang begitu indah disertai doa2 orang2 shaleh dalam sebuah akad nikah sederhana yang syahdu. Syukur karena akhirnya kami dapat mengakhiri masa lajang kami dengan perjuangan panjang menjaga kehormatan diri. Di antara kami berdua memang seumur hidup belum pernah pacaran. Dan memang benar, pacaran setelah menikah jauh lebih indah, berkah dan hukumnya halal pastinya. Alhamdulillah..Semoga pernikahan ini tidak hanya menjadi berkah bagi kami tetapi juga bagi keluarga, saudara-saudara seiman seperjuangan serta semua yang Allah kehendaki.

Semoga Allah menetapkan ikatan karena iman ini. Meskipun kami akan berpisah untuk sementara waktu, namun komitmen di hati kami insyaAllah jauh lebih luas daripada kerikil-kerikil yag ditemui di perjalanan. terlebih Long Distance Relationship saat ini sudah sangat mudah karena canggihnya tekonologi yang ada. Kamipun berharap akan muncul generasi-genarasi shaleh shalehah yang penuh ilmu dan amal  yang bisa menjadi kontribusi yang positif dan nyata bagi kebaikan di bumi hingga di akhirat. Amin..

-in a corner of Keizai-gakubu Kyudai, Fukuoka-

medio October 2010

Instant Enterpreneurship vs Truly Enterpreneurship

Jika 4 persen saja dari penduduk Indonesia menjadi pengusaha, maka Indonesia akan bebas dari pengangguran. Saat ini, baru 0.18 % dari total penduduk kita berstatus pengusaha. Padahal negara-negara maju seperti USA, memiliki pengusaha 2% dari total penduduknya. Dan bahkan Singapore yang hanya terdiri dari 1 pulau kecil, 7 % nya adalah pengusaha sehingga kemakmuran begitu merata di negara ini.

Maka, mengutip perkataan Pak Ciputra dalam Workshop Program Mahasiswa Wirausaha 2009 di DIKTI, Jakarta, setelah beliau merenungkan lama tentang apa sebenarnya kunci pembangkit bangsa ini.. Pendidikan kah? banyak sekali orang Indonesia yang pintar bahkan diakui di dunia internasional. Namun masih saja indonesia belum sejahtera. Teknologi kah? Fase Indonesia saat ini bukanlah technlogy maker, maka kontribusi teknologi untuk mensolve problem major kita belum besar. Dalam fase negara berkembang seperti Indonesia, maka major problem yang dihadapi adalah tidak jauh dari masalah ekonomi masyarakat. Maka setelah beliau merenung, maka jawabannya menurutnya adalah Enterpreneurship. Dimana kita bayangkan saat ini banyak sekali lulusan perguruan tinggi pun lulus dalam keadaan bingung akan kemana. Maka diperlukan inisiatif-inisiatif kreatif di masyarakat yang dapat membuka kesempatan kerja dan menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja.

Namun, ide yang sangat memberi angin segar ini, tak selalu memperoleh perhatian sepenuhnya. Banyak sekali orang yang dielukan setelah sukses menjadi pengusaha namun saat dulu pertama kali ia memutuskan menjadi pengusaha, mungkin banyak ketidak yakinan dari orang sekitar yang terlontar bahkan cemoohan maupun cacian. Terutama jika ia berada di lingkungan akademis yang kuat yang ter-mind set setelah lulus kuliah harus bekerja dengan mapan di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional. Enterpreneurhip memang jalan yang tidak mudah. Every beginning is hard. Tapi memang keberhasilan itu tak dilewati di atas jalan yang mulus tanpa kerikil.

Wihh berat.. Honestly, secara filosofi, enterpreneurship memang berat. Jalan yang unik, yang berada di luar track yang normal dilakukan orang-orang pada umumnya. (berarti abnormal ya? hehe..) Jika Anda berbekal IP tinggi, prestasi segudang, tentu akan besar kesempatan untuk memperoleh posisi yang baik dengan salary yang mumpuni di perusahaan bonafid. Namun bukan itu yang dicari. Justru kepuasan ketika berkarya menciptakan sesuatu dan mengembangkan sesuatu, lebih mengasyikan daripada memperoleh sesuatu yang dengan cukup mudah diperoleh. Terlebih, enterpreneurship ini memang menyimpan sebuah solusi yang real bagi permasalahan bangsa. Bayangkan saja jika 30 persen saja lulusan perguruan tinggi bisa membuka lapangan kerja, maka berapa banyak orang-orang di luar sana yang akan tertolong hidupnya. Ribuan bahkan jutaan orang akan tertolong.

Rasanya ini lebih nikmat daripada kita terikat bekerja di sebuah perusahaan dan saat itu kita menikmati hasilnya untuk diri kita sendiri. Tapi di perusahaan yang Anda buat sendiri, maka selain Anda juga membangun aset ekonomi Anda, Anda juga membantu beberapa keluarga untuk bertahan hidup. Maka tak ayal lagi, enterpreneurship adalah jalan bagi Anda yang ingin berbuat lebih demi kemanfaatan. karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

Namun sekarang ini, ada beberapa paradigma yang perlu dirubah tentang bagaimana kita melihat enterpreneurship..

1. Kampanye Kaya Instan. Beneran tuh?

I should really underline here, that Enterpreneurship is not merely as a place for collecting money. Miris sekali saat ini banyak kampanye-kampanye yang tidak cerdas yang menggiring orang untuk berbisnis dengan cara instan dengan iming-iming kaya cepat. Baik di internet maupun praktik-praktik offline. Selama halal, apapun boleh dilakukan, tapi saya rasa berbisnis sangat sayang jika disempitkan artinya dengan sekedar mengumpulkan kekayaan dengan instan. Karena enterpreneurship adalah sebuah proses berjuang yang lebih mulia. Yang dengan usaha kita banyak value added dari produk yang ditawarkan. Banyak pula manfaat dan value yang tersemat di tiap layanannya. Maka nikmatilah enterpreneurship sebagaimana Anda menikmati hidup di dunia yang penuh berkah.

2. Enterpreneur don’t go to school.

Memang beberapa pengusaha ternama di dunia adalah hasil DO. Sebut saja Bill gates dan Steve Jobs. Memang ada yang belajar enterpreneurship dari instinct atau bakat alami. Sementara ada juga yang justru belajar dari apa yang dipelajari di bangku sekolah. Guyonan di sebuah talkshow mengatakan bahwa memang ada 3 tipe enterpreneur : 1. karena bakat, 2. karena kesadaran, 3. karena kepepet. Yang pasti saya yakin bahwa tiap tipe ini punya possibility yang sama untuk sukses di kemudian hari. Yang berbakat bisa memanfaatkan orang-orang berilmu untuk meningkatkan kualitas menajemen perusahaan. Orang-orang yang berilmu formal di sekolah pun (khususnya ilmu manajemen bisnis)  telah terbekali ilmu yang cukup untuk menjadi dasarnya dalam membangun perusahaan. Kalau dalam kaca mata saya, enterpreneur yang tidak ber-track record studi yang baik (punya pengalaman DO dsb) sangat dominan dalam kemampuan mengambil resiko. Dan memang seorang enterpreneur adalah orang-orang yang berani mengambil resiko dan melihat peluang-peluang yang tidak terbaca oleh orang lain. Namun jika ia pun dibekali ilmu formal yang mumpuni, maka saya pun yakin itu akan membantunya men step-up perusahaan dengan lebih sistematis dan terarah. Seorang enterpreneur juga memiliki keharusahan mempelajari ilmu manajemen (CEO mindset). Begitu pun seorang CEO, harus memiliki enterpreneur mindset yang visioner.

3. Enterpreneur tu santai dan ga kerja apa-apa.

Memang banyak saat ini campaign yang mengedepankan TIME FREEDOM yang mengisyaratkan kebebasan waktu di dunia enterpreneur. Memang itu sangat benar! karena kita lah yang akan men-set waktu kita sehingga Anda yang ibu-Ibu masih bisa bebas membesarkan dan mendidik anak-anak tanpa terikat jam kerja di kantor. Anda pun Bapak-bapak masih bisa menjalankan kegiatan Anda yang lainnya untuk bersosial dan sebagainya. Anda yang berkecimpung turut serta dalam kegiatan pembinaan pun masih banyak waktu yang bisa didedikasikan di sana. Namun bukan berarti bisnis Anda akan jalan dengan berpangku tangan saja. It equals with the effort u do. Berjuang untuk menstabilkan sistem dan membuatnya berkerja untuk Anda. It takes time, But the time freedom will indeed happen. Kedepankan work smart daripada work hard. Sehingga Anda masih bisa menikmati hari-hari Anda untuk kombinasi dengan hal-hal lain yang juga bermanfaat. Berolahraga, kegiatan sosial lingkungan, mendidik keluarga Anda, bersilaturahim ke kerabat, mengisi mentoring dan aneka kegiatan menyeru kepada kebaikan.

Sudahlah.. enterpreneurship terlalu mengasyikan untuk tidak dicoba..

Mulailah melangkah.. mulailah dari nol meski tak mudah. Tapi PASTI Allah akan menunjukkan jalanNya untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari kerihoanNya (lihat QS. Al-Ankabt:69)

Tak ada keberhasilan yang instan. Selamat menikmati the truly enterpreneurship..

Pantang Menyerah. Terus berkarya untuk umat..

@ corner of my enterpreneurship house..

HIKARI LANGUAGE CENTER

Serunya Menulis

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menuangkan curahan jiwa dan perasaan dalam tulisan..

Setelah berkunjung ke blog teman yang salut bgta deh dia bisa isi dengan konsisten.. dengan pengalaman2nya yang informatif.. jadi tergelitik juga untuk kembali menulis dan mengikat makna dari berbagai peristiwa yang dialami..

hmm.. di suatu sore, saya tiba-tiba terdorong datang ke acara FLP Bandung yang bertempat di selasar Salman ITB. Sebetulnya baru aja tau dr fb via hp bahwa di sore itu ada acara FLP di sana. Otomatis saya yang dari dulu sebenrnya uda pengen banget join jadi langsung menarik teman saya yang tadinya niat ketemuan untuk juga ikutan tu acara.Yang ternayta ada juga beebrapa gelintir anggotanya adalah alumni iT Telkom. Bahkan ketuanya adalah Kak Dedi Setiawan, eks- ketua DPm. wah wah.. . dunia sempit ya memang..

Meski hanya beberapa belas menit terakhir.. tapi luar biasa insight yang saya dapat. Beberapa bait puisi dibacakan oleh seorang dosen unpad, Bapak Irfan Hidayatullah, yang sudah kuduga.. akan selalu memiliki sentuhan berbeda dari lingkungan yang biasa saya temui selama ini di kampus teknik. Jadi selalu teringat dengan kata-kata Bapak kita Taufiq Ismail. Bahwa, membaca karya sastra akan dapat melembutkan hatimu.. menjadi lebih peka lagi dalam merasa..

Melatih otak kanan, dengan membaca dan menyelami sastra memang sangat menyenangkan.. di balik untaian kata yang metaforis, kita belajar memaknai suatu momen dengan ungkapan yang berbeda dan penuh kecerdasan. Indah sekali ya..

Maka saya selalu salut dengan orang-orang yang memiliki kecerdasan perasaan yang begitu peka yang mampu menjalin kata dengan begitu indah dan mengalir. Meski metafora-metafora itu sendiri tak ada pakemnya.. ungkapkan saja.. dan rasakan saja di hati.. wihh.. subhanallah..

Dunia sastra dan kepenulisan saya mulai selami ketika SMP, dimulai dari debut di lomba membaca cerpen Islami sejabotabek..  waktu itu saya membaca cerpen nya Helvy Tiana Rosa, yang judulnya Jaring-jaring merah. Saya meranin peran jadi Inong, wanita yang menjadi gila karena diperkosa oleh pihak yang semena-mena saat peritiwa GAM di Aceh.. seru bgt lombanya dan bingun juga kenapa koq bisa jadi juara I padahal waktu itu sy peserta paling anak bawang.. Tapi eniwei, kebahagiaan ketika bisa berempati memerankan peran orang lain. Belajar menjadi orang lain.. merasakan deritanya.. meski tidak real.. membuat kita lebih wise dan berjiwa luas..

Di SMA, masih bisa bersentuhan dengan sastra, meski belum bisa diminta ngarang fiksi.. hehe.. ga jago imajinasi kykny ya.. masih sempat gabung di tim teater untuk nyeimbangin otak kiri yang tampak dominan bangt saat itu.. teater mengajarkan banyak hal, termasuk yang paling saya ingat adalah bagaimana meditasi memfokuskan pikiran ke dalam sebuah imajinasi kondisi tenang yang membuat naik angkot di kondisi super panas pun masih bisa menjadi berasa seperti lagi di depan air terjun yang berasa sejuk.. the power of meditation.

Well, my literature experience in college bisa dikatakan cukup menyedihkan karena sulit sekali menemukan komunitasnya. khususnya teater. Dan memang kembali aktivitas otak kiri sangat mendominasi dan cukup melupakan hobi nyastra ini.. Tapi karena jiwa menulis yang sebenarnya masih bersemayam, maka jadilah sebuah buletin yang berjudul Princess Zahra. yang sebenarnya isinya kumpulan anak-anak yang suka nulis dan mau mendedikasikan untuk tulisan-tulisan islami. 3 edisi alhamdulillah bisa terbit.. puas banget bisa nelurin buletin byang meski kecil banget tp dibuat dengan perjuangan.. hehe.. ingat banget gimana DP bikin animasi dan komik, trus nyari sponsor yang lumayan lah bisa bikin rame tu buletinnya.

Hmm… rasanya, memang makna akan kita ikat jika kita mampu menuliskan. Begitu kalau kata Pak Hernowo.

Tetap semangat menulis.. untuk terus memberi makna..

@hikari bjs

-setelah terinspirasi-

Dampak Medis Shalat Tahajud

(mengutip dari sebuah milis)

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya
mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi
juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian
Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa
membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

Tidak percaya?

Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. “Jika anda melakukannya secara
rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan
kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan
‘tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam
desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat tahajjud terhadap
peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu
Pendekatan Psiko-neuro-imunologi”

Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang
ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang
dipertahankannya Selasa pekan lalu. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud
dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah.

Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan
ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahanan tubuh
(imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang
berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan
kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan
status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan
pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan
keikhlasan.

Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan
mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan
tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,
dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.

Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada
kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara
38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00
normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon kortisolnya
normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.

Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang
membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam)
semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41
responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.

Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat
tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang
bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul
02-00-3:30 sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali
salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di
tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika).

Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud
secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud.
Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan
kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi
dengan stabil.

“Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat
dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan
cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif,
emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,”

Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap
penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan
secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa,
seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar
akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan
hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan
seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui
semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH
kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita???????

Seorang Doktor di Amerika ( Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa
keajaiban
yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan
tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.
Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat
yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah
klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan
melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang
terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam)
dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor
tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat
beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.

Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk
berfungsi secara yang lebih normal.

Tips ‘n Trik Beasiswa S2 Monbusho

Kali ini saya ingin berbagi tentang proses menjalani seleksi beasiswa S2 Monbukagakusho (Kementerian Pendidikan Jepang) melalui program Research Student dan beberapa tips dan trik yang mungkin berguna. Alhamdulillah saat ini saya telah masuk dalam kandidat inti yang merupakan 41 orang di antara 5000-an peserta seleksi. Namun masih menunggu fiksasi proses di Jepang untuk bisa berangkat Oktober tahun 2010 ini. (Mohon doanya ya..=))

MENGAPA JEPANG?
Pergi ke Jepang selama setahun saat SMA dalam program pertukaran pelajar AFS adalah salah satu pengalaman terluar biasa yang saya alami. Sebuah kesan yang sangat baik saya peroleh tentang negeri Jepang. Keindahan alamnya, keteraturan masyarakat dan kotanya, disiplinnya dan fasilitas umum yang begitu nyaman membuat saya terkagum-kagum dengan negara matahari terbit itu. Maka, saya sempat berpikir kapan lagi saya berkesempatan untuk pergi ke sana. Maka, saya memasukkan list Jepang dalam daftar negara yang saya tuju untuk jenjang S2. Sejak awal kuliah saya sudah membuat perencanaan tentang apa saja yang akan saya capai dalam 4 tahun termasuk perencanaan untuk melanjutkan S2. Karena saya sudah berazzam untuk S2 tanpa biaya dari orang tua. Selama beasiswa masih bertebaran dimana-mana maka sangat sayang jika kita tidak mengambil kesempatannya.

TERUS GIMANA?
Prosesnya sederhana, hanya mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Googling infonya (FYI : untuk keberangkatan 2011, deadline aplikasi tanggal 12 Mei 2010).
2. Persiapkan persyaratannya meliputi IPK minimal 3, TOEFL 550 atau Bahasa Jepang JLPT level 2, Sertifikat kesehatan, surat rekomendasi dari dosen atau kampus, prestasi pendukung.
3. Mengisi formulir yang tersedia. Tunggu panggilan.

Secara umum ada 3 tahap tes:
1. Seleksi Dokumen
Tahun lalu saya memasukkan aplikasi akhir Mei dan dipanggil untuk tes sekitar bulan Juli. Saat itu saya belum lulus kuliah, tapi untunglah tidak disyaratkan adanya ijazah ketika mendaftar seleksi. Yang penting kita sudah lulus pada bulan April tahun depannya.
2. Tes tulis bahasa Inggris dan Jepang
Selanjutnya adalah tes tulis bahasa Inggris dan Jepang. Peserta boleh mengerjakan keduanya atau minimal bahasa Inggris saja. Jika Anda memahami bahasa Jepang itu akan sangat menjadi poin plus. Jadi, persiapkan bahasa Jepang Anda meski pun masih dasar. Sewaktu SMA kebetulan saya mengantongi sertifikat JLPT level 2 setelah setahun pertukaran, ternyata ini sangat membantu. Tapi tenang saja, banyak di antara kandidat yang mengandalkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan bahasa Jepang seadanya. Enaknya seleksi beasiswa S2 adalah tidak ada tes eksakta seperti fisika atau kalkulus=)
3. Wawancara
Saya diwawancara oleh lima interviewer yang terdiri dari 3 orang Jepang dan 2 orang Indonesia. Pengantarnya bahasa Inggris tapi saya juga menggunakan bahasa Jepang untuk menjawab beberapa pertanyaan (Tapi sebenarnya saya sudah lama sekali tidak menggunakan bahasa Jepang aktif). Apa yang ditanya ketika wawancara? Mereka lebih banyak menanyakan tentang rencana riset kita dan bagaimana beasiswa S2 ini akan terkait dengan goal kita di masa depan. Jadi, kita akan setahun riset dulu baru setelahnya S2 selama dua tahun. Nah, sebetulnya saya tidak sedemikian mempersiapkan riset yang terlalu wow. (Karena saya melihat rekan-rekan yang lain ada yang sudah membawa berkas terkait risetnya). Ketika ditanya riset, saya bermodalkan konsep yang ada di pikiran tanpa dokumen pendukung apapun=) Bahkan, sebenarnya saya baru saja sampai pagi itu di kedutaan Jepang di Jl. Thamrim Jakarta karena baru saja mengikuti PIMNAS di Malang. Tapi saya tetap berangkat dengan santai dan pasrah saja. =)
Saya rencanakan akan meriset tentang e-commerce di Jepang yang sangat maju yang sejalan dengan Tugas Akhir saya. Maka, untunglah saya cukup ingat apa saja bagian dalam tugas akhir yang sedang digarap. Minimal saya menceritakan jurnal-jurnal yang menjadi dasar TA saya dan mengapa topik ini cocok untuk dipelajari di Jepang. Selain itu kita ditanya juga tentang kesiapan kita menghadapi dunia Jepang.
Jangan lupa bahwa kelancaran bahasa Inggris Anda pun akan sangat menentukan performa ketika interview. Disarankan bagi Anda untuk terus melatih bahasa Inggris aktif Anda selama masa kuliah S1. Jika Anda berkemampuan bahasa asing lainnya, itu juga akan sangat menjadi poin plus. (Lebih lengkapnya tentang tips sukses interview, bisa lihat di sini). Jurusan S2 yang dipilih sebaiknya yang sejalan dengan S1 Anda. S1 saya adalah Teknik Industri dan Saya memilih jurusan S2 Commerce and Management dengan gelar MBA karena berharap ini juga mendukung track saya di jalan entrepreneurship yang saya pilih.
Sebelumnya, saya juga sudah mengontak professor di Jepang via email. Ini juga akan menjadi faktor yang cukup penting. Sebaiknya Anda sudah mengontak professor jauh-jauh hari sebelumnya.

SEBAIKNYA..
1. Anda memilih jurusan S2 yang sejalan dengan jurusan S1 Anda.
2. Mempersiapkan bahasa asing Anda sejak dini.
3. Mempersiapkan track record yang mendukung (misalnya dari segi akademis, prestasi selama kuliah, pengalaman organisasi dan lain-lain).
4. Sudah mengontak professor terlebih dahulu.
5. Lengkapi persyaratan sebaik-baiknya.
6. Tetap berikhtiar dan berdo’a dengan maksimal. Semoga dipertemukan dengan takdir Allah untuk pergi kesana.
7. Terus berpositive feeling bahkan hingga di saat interview. Yakinlah bahwa prasangka Allah sesuai prasangka hambaNya.

Semoga dimudahkan. Tiada daya dan upaya kecuali karena kehendakNya, maka jalani prosesnya dengan ikhlas dengan menyandarkan semuanya kepadaNya.
Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.. dari buaian hingga ke liang lahat..
(jangan lupa ya, deadlinenya 12 Mei 2010)

Bandung, 9 mei 2010
@HIKARI bjs office

Penulis adalah alumni Teknik Industri IT Telkom 2005, lulus Oktober 2009.
Saat ini beraktivitas sebagai owner dan pengajar di HIKARI LANGUAGE CENTER.

Kunci Sukses yang Sebenarnya

Banyak sekali kejadian yang dialami anak manusia yang sebenarnya secara logika merupakan ketidak mungkinan, namun ternyata semua bisa terjadi dengan begitu mudahnya. Seorang kawan yang telah divonis tidak dapat memiliki anak karena pabrik spermanya telah ‘tutup’, ternyata masih bisa melihat harapan dan memohon dengan penuh berserah diri kepadaNya. Di shalat malam yang panjang ia memohon dalam kekhusyukan. Menurunkan gelombang otaknya menjadi alpha dan membiarkan mekanisme Tuhan yang bermain dalam memberi keputusan. Subhanallah, doanya terjawab dan pelan-pelan ‘pabrik’ itu mulai berfungsi kembali. Dan sang buah hati pun dapat muncul di muka bumi.

Subhanallah..

Ada juga kejadian teman yang memiliki usaha bermodalkan 20.000 rupiah namun saat ini terus berkembang pesat dengan sumber permodalan dan customer yang beraneka ragam. Ada pula seorang teman yang semasa kuliahnya sudah pergi ke 5 negara yang berbeda untuk sebuah perjalanan prestatif mewakili kampusnya. Padahal dari segi IQ mungkin bukan ia yang terjenius di kampusnya.

Kalo saya boleh mencoba mengusut, tipikal-tipikal orang-orang ‘beruntung’ ini adalah orang-orang yang memperoleh kemudahan dengan serta merta alias rezeki tak terduga karena merekalah yang dipilihNya. Golden ticket memang tidak menghampiri semua orang. Tapi mengamati tipikal mereka, maka benang merah yang saya bisa rasakan adalah bahwa mereka memiliki keikhlasan (yang mungkin hanya Allah saja yang mengetahui). Bahkan rumput yang bergoyang pun tak mengetahui jejak langkah ikhlas mereka. Namun justru karena dunia tak mengetahuinya, maka disitulah ia berhasil menggoreskan amalan ikhlasnya. Dan di sanalah golden ticket dariNya turun.

Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas. Sebuah energi luar biasa besar yang muncul justru ketika orang berada pada titik keikhlasan, titik berserah diri padaNya. Mereka mungkin kelihatan tenang alias adem ayem, sabar, tidak bombastis, namun justru mereka menyimpan rasa syukur, sabar, tekun, dan kefokusan luar biasa dalam mencapai titik-titik yang ingin dicapainya. Sebuah paradigma bahwa sebuah cita-cita harus dicapai dengan kerja keras yang menggunakan dominasi otak dan otot, kini tak lagi relevan. Dominasi otak dan otot tidak cukup, karena dominasi hatilah yang menentukan apa yang telah diikhtiarkan oleh otak dan otot. Era positive thinking telah bergeser menjadi positive feeling. Dan era goal setting telah bergeser menjadi era goal praying. Maka bukan hanya kekuatan pribadi yang bermain disini. Tapi yang lebih besar adalah kekuatan Tuhan. Bukan Force, tetapi Power.

Karena di dalam Al-Qur’an sendiri banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan tentang apa sebenarnya kunci sukses. Kesuksesan bukan hanya hasil dari usaha, namun sesuatu yang hasilnya merupakan hadiah atas usaha dan pertemuan rencana manusia dengan takdir Allah. Maka banyak orang yang menyebutkan kesuksesan sebagai keberuntungan. Karena tidak semua yang telah berusaha dengan kadar yang sama bisa memperoleh hasil yang sama. Ada tangan Allah yang menentukan ending-nya. Dan memang itulah keberuntungan seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an.

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)” (QS. 87:14)

“Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kamu beruntung.” (Qs. Al-Hajj : 77)

Sungguh telah beruntung kaum mukiminin, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka”. (Al-Mukminun: 1-2)

Maka, sebenarnya keberuntungan itu tidak jauh dari orang-orang yang kerap menyucikan diri (menjadikan diri ikhlas), ahli rukuk, sujud (shalat khusyuk), taat ibadah dan berbuat baik.

Beberapa hadits Nabi pun menambahkan..

“Yang pertama-tama diperhitungkan terhadap seorang hamba di hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang sholatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya buruk, maka ia kecewa dan merugi.” (HR. An-nasa’i, At-turmudzi)

“Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah dikala hamba itu bersujud (didalam Shalat). Maka banyak-banyaklah berdo’a didalam sujud itu”
“Perbanyaklah sujud kepada Alloh. Sesungguhnya bila sujud sekali saja Alloh akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu.” (HR.Muslim)

Ibadah yang benar (Shahihul ibadah) pada akhirnya akan mempengaruhi kesucian jiwa, dan kehusyukan sehingga fokus mencapai hal-hal yang telah direncanakan dengan energi yang maksimal. Itulah kondisi ikhlas ketika jiwa telah suci dari kekotoran orientasi dan tertuju fokus menyandarkan diri pada Pemilik Alam Raya, Rabb kita.

Seperti diriwayatkan oleh Imam Ja’far dalam kitab Al-Bihar: “Apabila seorang hamba berkata, ‘Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah’ maka Allah menjawab, ‘Hai para malaikat-Ku, hamba-Ku telah ikhals berpasrah diri, maka  bantulah ia, tolonglah dia, dan sampaikan (penuhi) hajat keinginannya”.

“Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.” (Al-Isra’: 108)

Subhanallah.. Maka jelaslah jalan menuju sukses memperoleh kebahagiaan yang hakiki..

Wallahu alam bisshshowab,

setelah sekian lama tidak menulis..

b4 00 am. @bjs