Archives

Tips & Trik Beasiswa S2 Monbusho

(repost dan edited dari tulisan tahun 2010)

Kali ini saya ingin berbagi tentang proses menjalani seleksi beasiswa S2 Monbukagakusho (Kementerian Pendidikan Jepang) melalui program Research Student dan beberapa tips dan trik yang mungkin berguna. Alhamdulillah atas izin Allah, saat ini saya telah masuk dalam 41 orang kandidat di antara 5000-an peserta seleksi.

MENGAPA JEPANG?
Pergi ke Jepang selama setahun saat SMA dalam program pertukaran pelajar AFS adalah salah satu pengalaman paling luar biasa yang saya alami. Sebuah kesan yang sangat baik saya peroleh tentang negeri Jepang. Keindahan alamnya, kebersihan dan keteraturan masyarakat dan kotanya, disiplin masyarakatnya, teknologi dalam kesehariannya, dan fasilitas umum yang begitu nyaman membuat saya terkagum-kagum dengan negara matahari terbit itu. Maka, saya sempat berpikir kapan lagi saya dapat kesempatan untuk pergi ke sana. Maka,Jepang masuk dalam daftar negara yang saya tuju untuk jenjang S2. Sejak awal kuliah saya sudah membuat perencanaan tentang apa saja yang akan saya capai dalam 4 tahun termasuk perencanaan untuk melanjutkan S2. Karena saya sudah bertekad untuk S2 tanpa biaya dari orang tua, selama kesempatan beasiswa masih bertebaran dimana-mana maka sangat sayang jika tidak diambil kesempatannya.

TERUS GIMANA?
Prosesnya sederhana, hanya mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Cek infonya di website Kedutaan Besar Jepang :http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta.html
2. Persiapkan persyaratannya meliputi IPK minimal 3, TOEFL 550 atau Bahasa Jepang JLPT level 2, Sertifikat kesehatan, surat rekomendasi dari dosen atau kampus, prestasi pendukung.
3. Mengisi formulir yang tersedia. Tunggu panggilan.

Secara umum ada 3 tahap tes:
1. Seleksi Dokumen
Tahun lalu saya memasukkan aplikasi akhir Mei dan dipanggil untuk tes sekitar bulan Juli. Saat itu saya belum lulus kuliah, tapi untunglah tidak disyaratkan adanya ijazah ketika mendaftar seleksi. Yang penting kita sudah lulus pada bulan April tahun depannya.
2. Tes tulis bahasa Inggris dan Jepang
Selanjutnya adalah tes tulis bahasa Inggris dan Jepang. Peserta boleh mengerjakan keduanya atau minimal bahasa Inggris saja. Jika Anda memahami bahasa Jepang itu akan sangat menjadi poin plus. Jadi, persiapkan bahasa Jepang Anda meski pun masih dasar. Sewaktu SMA kebetulan saya mengantongi sertifikat JLPT level 2 setelah setahun pertukaran, ternyata ini sangat membantu. Tapi tenang saja, banyak di antara kandidat yang mengandalkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan bahasa Jepang seadanya. Enaknya seleksi beasiswa S2 adalah tidak ada tes eksakta seperti fisika atau kalkulus=)
3. Wawancara
Saya diwawancara oleh lima interviewer yang terdiri dari 3 orang Jepang dan 2 orang Indonesia. Pengantarnya bahasa Inggris tapi saya juga menggunakan bahasa Jepang untuk perkenalan dan menjawab beberapa pertanyaan (Tapi sebenarnya saya sudah lama sekali tidak menggunakan bahasa Jepang aktif). Apa yang ditanya ketika wawancara? Mereka lebih banyak menanyakan tentang rencana riset kita dan bagaimana beasiswa S2 ini akan terkait dengan goal kita di masa depan. Jadi, kita akan setahun riset dulu baru setelahnya S2 selama dua tahun. Nah, sebetulnya saya tidak sedemikian mempersiapkan riset yang terlalu wow. (Karena saya melihat rekan-rekan yang lain ada yang sudah membawa berkas terkait risetnya). Ketika ditanya riset, saya bermodalkan konsep yang ada di pikiran tanpa dokumen pendukung apapun. Bahkan, sebenarnya saya baru saja sampai pagi itu di kedutaan Jepang di Jl. Thamrin Jakarta karena baru saja mengikuti PIMNAS di Malang. Tapi saya tetap berangkat dengan santai dan pasrah saja.
Saya rencanakan akan meriset tentang e-commerce di Jepang yang sangat maju yang sejalan dengan Tugas Akhir saya. Maka, untunglah saya cukup ingat apa saja bagian dalam tugas akhir yang sedang digarap. Minimal saya menceritakan jurnal-jurnal yang menjadi dasar TA saya dan mengapa topik ini cocok untuk dipelajari di Jepang. Selain itu kita ditanya juga tentang kesiapan kita menghadapi dunia Jepang.
Jangan lupa bahwa kelancaran bahasa Inggris Anda pun akan sangat menentukan performa ketika interview. Disarankan bagi Anda untuk terus melatih bahasa Inggris aktif Anda selama masa kuliah S1. Jika Anda berkemampuan bahasa asing lainnya, itu juga akan sangat menjadi poin plus. (Lebih lengkapnya tentang tips sukses interview, bisa lihat di sini). Jurusan S2 yang dipilih sebaiknya yang sejalan dengan S1 Anda. S1 saya adalah Teknik Industri dan Saya memilih jurusan S2 Commerce and Management dengan gelar MBA karena berharap ini juga mendukung track saya di jalan entrepreneurship yang saya pilih.
Sebelumnya, saya juga sudah mengontak professor di Jepang via email. Ini juga akan menjadi faktor yang cukup penting. Sebaiknya Anda sudah mengontak professor jauh-jauh hari sebelumnya.

SEBAIKNYA..
1. Anda memilih jurusan S2 yang sejalan dengan jurusan S1 Anda.
2. Mempersiapkan bahasa asing Anda sejak dini.
3. Mempersiapkan track record yang mendukung (misalnya dari segi akademis, prestasi selama kuliah, pengalaman organisasi dan lain-lain).
4. Sudah mengontak professor terlebih dahulu.
5. Lengkapi persyaratan sebaik-baiknya.
6. Tetap berikhtiar dan berdo’a dengan maksimal. Semoga dipertemukan dengan takdir Allah untuk pergi kesana.
7. Terus berpositive feeling bahkan hingga di saat interview. Yakinlah bahwa prasangka Allah sesuai prasangka hambaNya.

Semoga dimudahkan. Tiada daya dan upaya kecuali karena kehendakNya, maka jalani prosesnya dengan ikhlas dengan menyandarkan semuanya kepadaNya.
Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.. dari buaian hingga ke liang lahat..

 

Note: Perlu persiapan bahasa Jepang? hubungi Hikari Bridge untuk mengikuti Free Trial Online Class-nya.

visit :www.hikari-bridge.com64757_10152704350170265_1118165806_n.jpg

Happy Mom Raises Happy Kids

Selama 4,5 tahun menjadi ibu, saya menemukan bahwa titik pertumbuhan utama seorang anak berawal dari seberapa bahagia si Ibu. Ibu yang tidak bahagia (unhappy mom) cenderung mengasuh anaknya dengan cara yang mengekspresikan rasa tidak bahagia dalam dirinya. Dan alhasil, si anak berada dalam lingkungan pengasuhan dengan energi negatif. Anak pun menjadi negatif  sejak masa kecilnya. namun ibu yang bahagia akan memberikan selalu energi positif ke anaknya, terus berpikir dan mengusahakan hal-hal terbaik untuk anak. Anak pun merasa bahagia berada dalam pengasuhan yang penuh kasih sayang dan penghargaan atas dirinya. Rasa senang dan bahagia ini akan memicunya untuk semangat bertumbuh, belajar hal baru, dan terus meningkat dari sebelumnya.

Namun apa paramater bahagia bagi seorang ibu? Bisa jadi berbeda-beda. Ada yang bahagia karena ia bisa berekspresi di luar rumah, ada yang bahagia dengan berada di dalam rumah, ada yang bahagia dengan materi yang lengkap di sekelilingnya, ada yang sudah bahagia dengan hidup sederhana, ada yang sudah merasa bahagia dengan bisa melihat suaminya semangat bekerja,  ada yang bahagia melihat suaminya setiap hari shalat shubuh ke mesjid dan lain-lain.

Dari sekian banyak parameter, ada benang merah yang akan sama di setiap ibu, yaitu  Achievement. Bahasa mudahnya, pencapaian. Seorang ibu akan merasa bahagia ketika ia bisa mencapai sesuatu. Achievement itu bisa jadi sederhana bisa jadi besar tergantung kadar seseorang. Yang penting ia tidak berada dalam kondisi stagnansi, tanpa karya, tanpa perbaikan, tanpa progress.

Ada banyak sisi yang berada dalam lingkup bahagia. Karena sumber bahagia adalah hati seseorang, di mana hati hanya bisa tenang dengan mengingat RabbNya, maka sisi Ruh  atau jiwa seorang ibu memiliki pengaruh yang utama sebelum yang lainnya. Seorang ibu yang sebelumnya jauh dari mengingat Allah, melupakan shalat, ketika ia mulai kembali menggelar sajadahnya, ia akan merasa ada achievement luar biasa dalam dirinya bahwa ia bisa kembali melakukan kebaikan itu. Hatinya akan tersirami dengan kebahagiaan dan cahaya Ilahi, yang sebelumnya suram dan hanya dipenuhi kesibukan dunia.

Seorang ibu yang sebelumnya sudah terbiasa menjaga shalat, akan merasakan peningkatan ketika ia bisa menambah kualitas ibadahnya dengan tilawah, shalat malam dsb. Ia yang sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah sunnah ini pun akan bertambah kebutuhan jiwanya akan sesuatu yang lebih, mungkin ia akan mulai serius menghafal Al-Qur`an. Dan dari sana jiwanya akan lebih tercerahkan lagi. Semakin meningkatlah kadar kebahagiaannya. Dan ia semakin merasa tercukupi dengan bahagia ukhrowi ini, tidak dikhawatirkan dengan kekhawatiran dunia. Karena ternyata Allah sudah mencukupkan kebutuhan jiwanya dan memudahkan urusan dunianya. Inilah kebahagiaan jiwa yang hakiki. Kebahagiaan karena rasa optimis yang muncul dari spiritualitas.

Sisi kedua yang sangat penting adalah achievement menjadi istri yang mendapat ridho suami. Karena rasa bahagia dalam rumah sangat tergantung bagaimana suami ridho kepada istrinya. Ketika di dalam rumah hak dan kewajiban suami istri terjaga dengan seimbang, dengan penuh rasa ikhlas sebagai bentuk ibadah pada Allah, maka akan timbul bahagia yang berawal dari ridho suami, dan membuahkan ridho Allah. Maka komunikasi yang harmonis, rasa saling pengertian dan saling mendukung di saat-saat sulit akan sangat menambah rasa cinta dalam keluarga. Ketaatan, akhlaq dan kasih sayang istri kepada suami akan makin membuat suami merasa tenang dan percaya bahwa anak-anak dan rumahnya akan tenang bersamanya.

Sisi lain yang mempengaruhi bahagia seorang ibu juga berada pada hal-hal terkait dengan passion-nya. Seorang ibu akan mengalami bahagia ketika bisa melakukan achievement pada bidang yang disukainya. Misalnya ia suka mengajar, atau senang menulis, atau menjahit, atau memasak, atau berwirausaha atau berorganisasi dan lain-lain. Meski ia melakukan yang terbaik untuk tanggung jawabnya di rumah dan ia pun tetap punya waktu untuk  bisa melakukan hobi atau passionnya, dan itu pun bisa mendukung kesuksesan perannya di dalam rumah sebagai ibu dan istri.

Namun ada juga hal atau skill yang sebelumnya tidak pernah dikuasai namun ia menjadi begitu bahagia ketika ia bisa mencapainya, yaitu misalnya skill memasak, skill membersihkan dan merapihkan rumah dengan efisien, skill mengatur keuangan, skill parenting, skill manajemen waktu yang efisien, dan skill baru lainnya yang terkait dengan teknis rumah tangga. Yang membuatnya merasa rutinitas di dalam rumah menjadi hal yang ringan dan tidak beban. Maka seorang ibu harus terus menambah ilmu dalam dirinya, menyambut dengan gembira setiap majelis ilmu dan kesempatan berdiskusi dengan yang lainnya. Dari sana lah jiwanya juga akan lebih tercerahkan dengan ilmu yang baru.

Sisi lain yang juga penting adalah porsi yang seimbang untuk ia bisa memberikan hak bagi jasmaninya, ia bisa mengatur waktu istirahatnya, makan dengan seimbang dan juga berolahraga (yang ini mungkin sambil mengerjakan pekerjaan rumah ya), refreshing dari rutinitas sehari-hari dengan jalan-jalan keluarga, bersilaturahim dengan keluarga dan teman, dan lain-lain.

Ibu adalah sumber kasih sayang bagi seorang anak. Matahari di setiap hari-harinya. Ibu yang jiwanya memancarkan bahagia akan memiliki stok kesabaran yang tak ada putusnya, dan membimbing anak-anaknya dengan energi terbaiknya. Rasa bahagia yang muncul dari anak-anak yang berhasil diasuhnya dengan kondisi terbaik yang ia bisa, akan memunculkan lagi kebahagiaan dan kesyukuran selanjutnya. Dan Semoga Allah terus menghadiahkannya dengan hasil yang membahagiakan di akhirat kelak.

16 September 2016

-in a happy morning at shirohama 37-

 

 

 

Ganbarikko

Pagi ini saya menyaksikan rehearsal untuk Undokai (sports day) di TK anak saya, Shirohama Preschool yang akan diadakan 3 Oktober. Aah.. Takjub! Demikian lah setiap kali saya masuk melihat bagaimana masyarakat Jepang dalam keseharian. Teratur, buncahan semangat dan berjuang tanpa menyerah menjadi spirit utama mereka.

Terkesima ketika di pagi hari tadi beberapa anak berdiri menjadi perwakilan tiap kelas meneriakkan yel-yel yang sederhana namun terasa tertanamnya dalam keseharian mereka. Nakayoku ShimasuKorondemo nakimasen! Saigo made ganbarimasu! (kami akan akur satu sama lain! Walaupun jatuh tidak menangis! Berjuang sampai Akhir!). Tidak heran memang melihat anak-anak kecil di sini jika jatuh mereka bangun sendiri tanpa menangis, tanpa orang tuanya pun khawatir berlebihan. Karena mereka dilatih untuk bersabar dengan rasa sakit, dan bangkit sendiri. Kecuali rasa sakit yang memang tak tertahan, tentu orang tua akan segera menunjukkan empatinya. Dan setelah itu menenangkan dan menyemangatinya agar bangkit kembali.

Anak-anak yang sudah berbaris rapi per kelas dari kelas anak usia  satu, dua hingga lima tahun, lalu melakukan senam pemanasan penuh semangat. Setelahnya dilanjutkan dengan lomba berlari anak umur satu tahun yang telah berdiri dalam satu barisan. Takjub melihat anak-anak sekecil ini bisa dibuat begitu teratur dan mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Suasana ceria penuh semangat begitu terasa.

Dalam keseharian, Jepang yang memiliki kesan umum disiplin dan kaku, sebenarnya sangat humanis dan empatik. Menekankan akur satu sama lain dan anti untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Mereka menyebutkan aturan dengan jelas, mengingatkan jika ada hal yang tidak sesuai aturan namun menghargai setiap kemajuan setiap orang dalam belejar mengikuti disiplin yang ada. Semuanya dilakukan dengan suasana encouraging. Maka baik siswa maupun orang tua terdorong untuk menjalani kemajuan sedikit demi sedikit tanpa merasa terdiskriminasi. Setiap anak setiap hari diminta datang pada jam yang telah ditentukan yaitu sebelum 8.50 pagi, membawa perlengkapan yang dipakai hari itu. Mereka meletakkan sendiri sepatu, cangkir dan handuk kecilnya di tempat masing-masing yang telah tertera nama mereka. Begitu teratur dan mandiri.

Di sekolah ini ada anak-anak Jepang yang memang sudah terbiasa dengan tata cara keseharian Jepang. Namun banyak juga siswa asing yang perlu dari nol kembali mengikuti kebiasaan baru di sekolah. Dan saya rasa sekolah ini cukup berhasil membuat anak-anak asing ini mengikuti roda perputaran tata cara sekolah Jepang ini. Bukan dengan bentakan, paksaan untuk membuat mereka disiplin. Tapi dengan penghargaan atas kemajuan mereka sedikit apapun dalam mengikuti kebiasaan yang ada di sekolah. Sehingga tiap anak tidak merasa rendah ketika ia tidak sebaik yang lain. Dan mereka selalu bersemangat ke sekolah setiap hari karena suasana yang sangat encouraging, mendukung kemajuan diri mereka sepenuhnya. Saya rasa inilah yang disebut dengan Encouraging Education. Every kid is special, dan mereka dididik untuk menjadi seorang Ganbarikko (anak yang berjuang dengan semangat). Rasanya itulah yang menjadi salah satu hal penting yang perlu ditanamkan dalam usia dini, maka dalam hal apapun mereka akan berpikir positif untuk berjuang dan bisa melewati tantangan di tahun-tahun selanjutnya dalam fase hidup mereka.

 

Fukuoka, 31 Agustus 2016

-di sudut home office shirohama 37-

Dua Cahaya Kecilku di Februari

Bulan Februari 2016.

Ada yang sangat spesial di bulan ini. Karena ada dua cahaya yang Allah kirimkan dalam hidup; Muhammad Kazuya Elfatih (Fatih) dan Abdurrahman Hiroshi Attaqiy (Taqiy). Fatih genap berusia 4 tahun tanggal 9 yang lalu, dan Taqiy genap berusia 1 tahun tanggal 24 yang lalu.

Tak disangka, di dalam panjangnya perjalanan roadmap kehidupanku, ada dua cahaya kecil yang Engkau anugerahkan. Mereka kecil karena memang mereka masih balita, tapi pun mereka adalah cahaya yang memberikan diri ini banyak hikmah dan pelajaran. Di antara list planning dan achievement dalam hidup, dua cahaya kecil ini seperti elemen yang `unpredictably exist`. Mengapa? Karena memiliki anak, menjadi ibu, adalah pemberian Allah yang extremely new things dan membuat saya (dan suami) jadi `merekonstruksi` planning-planning dalam hidup. Mengapa? Karena mereka begitu istimewa. Ada dua manusia baru yang dititipkanNya yang bukanlah sekadar amanah harta, atau benda mati lainnya, tapi amanah manusia yang bertumbuh dan memiliki masa depannya. Maka ada hak-hak dua cahaya kecil yang saya harus prioritaskan daripada hak-hak saya sendiri. Ada planning-planning dalam hidup yang saya sesuaikan demi tumbuh kembang terbaik mereka. Hmm.. jadi teringat bagaimana kisah cacing merah yang bergerak mendatangi Nabi Daud, ternyata cacing itu bisa berbicara dan ia diperintahkan Allah untuk bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir 1000 kali di siang hari, serta bershalawat 1000 kali di malam hari. Subhanallah, bahkan hewan kecil saja Allah berikan makna sedemikian tinggi, yaitu untuk berdzikir pada Allah. Apalah lagi dengan dua manusia baru yang kehadiran mereka memiliki potensi sangat besar untuk memberatkan kebaikan di muka bumi ini. Dan saya lah yang Engkau berikan amanah menjadi ibu dari dua ruh Elfatih dan Attaqiy ini. Maa syaa Allah..

Di antara achievement duniawi dan amanah dalam hidup yang Engkau gariskan untukku selama ini, amanah dua cahaya kecil ini tampaknya yang memiliki makna sangat dalam bagi akhiratku kelak. Ya, karena mereka ini adalah titipanMu yang akan ditanyakan setelah matiku kelak. Mereka inilah investasi akhiratku yang dengan do`a-do`a mereka tak akan putus hingga setelah matiku, yang dengan keshalihan mereka, diri ini bisa terselamatkan di akhirat kelak. Maka achievement besar yang Engkau anugerahkan adalah jika mereka kelak termasuk ke dalam golongan orang shalih, yang Engkau anugerahkan syurga.

Ada kekhawatiran terkadang merayap dalam hati ini, bagaimanakah mereka kelak di masa depan? Bagaimana akhirat mereka kelak? Namun, membaca tuntunan Rasulullah yang dikutip di buku Prophetic Parenting membuat diri lebih lega, yaitu untuk membantu mereka berbakti. Kata membantu di sini berarti kita berikan mereka jalan, arahan, menyediakan sarana dan dukungan agar mereka menjadi orang yang  berbakti kepada Allah, rasulNya dan kepada orang tuanya. Bukan menuntut mereka untuk berbakti, tetapi membantu mereka. Kepada Allah saja kita menyerahkan hasil dari apa yang telah kita usahakan. Saat ini yang bisa kulakukan adalah menjadi ibu terbaik mereka dan senantiasa berucap do`a kebaikan. Namun ibu yang masih papa dalam ilmu dan amal ini, masih perlu terus belajar tuk mereguk ilmu, menebalkan bekal taqwa dan bahan bakar kesabaran. Robbi hablii minassholihiin.. Ya Rabb, jadikanlah mereka termasuk dalam golongan orang yang shalih.. Dekatkan mereka dengan Qur`an sehingga mereka senantiasa dekat denganMu.. Bukakan hati dan pikiran mereka dengan ilmu Islam, sehingga mereka memahami diri mereka dan berbahagia di dunia dan akhiratnya.. aamiin..

Mas Fatih dan Dek Taqiy, ummi yang masih jauh dari sempurna ini, yang ikhtiarnya masih begitu sedikit ini, hanya bisa bergantung pada Allah akan masa depanmu kelak, di dunia dan akhirat.

otanjoubi omedetou anak2ku! barakallahu fii umrikum..

 

 

12-12-13

Apa arti angka di atas? Itu adalah tanggal hari ini. betl Sekali. Tak ada yang spesial sebetlnya dengan tanggal ini. Tapi saya rasa tak ada hari yang tidak spesial, karena Allah sudah menghadiahkan kita hidup pada tanggal ini. Dan artinya, tidak lah pantas tiap hari lewat tanpa ada karya berarti untuk kehidupan. sebagai bentuk syukur kita kepada Allah.

Soooo,, berhubung sepertinya jatah hadiah Allah kepada saya dan keluarga kecil saya di Jepang hanya tinggal sepuluh bulan lagi. Siapkanlah banyak oleh2!! yaituuu tlisan pemikiran di blog ini ttg what I can learn from Japan for Indonesia!!

Refleksi.. Dimana Diri ini Berada Kelak?

Detik demi detik.. Hari demi hari.. bulan demi bulan terlewati..

Hampir 8 bulan sudah meniti takdirNya di negeri Sakura..

Sebuah guratan kerisauan menyembul di sudut hati..

Adakah kebaikan dalam waktu yang diamanahkan ini tlah tergores?

Adakah diri ini telah berjuang hingga titik dimana Allah mencurahkan ridhoNya karena melihat seorang hambaNya berjuang dengan seluruh kemampuannya?

Berjuang menjaga dienNya, berjuang menjaga istiqomah untuk senantiasa mendedikasikan waktuNya untuk keikhlasan dan mahabbah padaNya..

Ataukah segala kenikmatan ini melenakan dari perjuangan yang seharusnya?

Lihatlah bagaimana isi SMS seorang ustadzah yang begitu kokoh aqidahnya dan mencurahkan segenap harta, waktu, tenaga dan pikirannya di jalanNya..

`Ya Robb, aku sdg memikirkan posisiku kelak diakhirat mngkitkan aku berdampingan dgn penghulu para wanita khodijah al kubro yg berjuang dgn harta dan jiwanya?Atau dngn Hafsah bt Abi Bakr yg di bela oleh Allah saat akan dicerai krn showwamah dan qowwamahnya? Atau dgn Aisyah yg telah hafal 3500 an hadits, sdg aku….ehm 500 jg belum…atau dgn ummu sulaim yg shobiroh atau dgn Asma yg mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dr jihad… atau dgn siapa ya, ya Alloh, tlg beri kekuatan tuk mengejar amaliah mereka…sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dgn mereka di taman firdausMu`

wahai hati.. beliaulah ustadzah Yoyoh Yusrah yang ternyata dirindukanNya dan terlebih dahulu dipanggilNya.. dedikasi di jalan dakwah adalah totalitas yang menunjukkan kekuatan karakter seorang muslimah untuk berkomitmen membesarkan 13 putra putri solih solihahnya namun tidak pula melupakan kewajibannya untuk beramal jamai di jalan dakwah, berperan aktif untuk masyarakat, untuk menegakkan kalimatNya di bumi..namun beliau tetap bersahaja dan total memberikan harta dan jiwa di jalan dakwah..yang kepergiannya disedihkan oleh saudara/i kita di Palestina, Sudan, Libanon.. atas perjuangannya untuk peduli pada mereka..

Betapa tangguhnya ia.. dan lihatlah sekali lagi isi SMSnya tadi.. beliau yang pernah menghafal Al-Qur`an dengan jumlah yang tidak sedikit saja masih sangat memikirkan bagaimana kondisi akhiratnya kelak.. tentang dimana ia berada dibandingkan para wanita shalihah yang terdahulu.. yang beliaupun pernah diprotes oleh seorang wanita Palestina karena belum selesai menghafal 30 Juz Al-Qur`an..`untuk apa saja waktumu digunakan hingga sudah seusia sekarang namun belum selesai menghafal Al-Qur`an?`, ucap wanita Palestina itu padanya.

Ya Rabb.. betapa sedikitnya amalan hamba ini.. betapa kecilnya diri ini..dibanding mereka.. dibanding mereka yang berjuang menjaga hati dan waktunya hanya untuk ketaatan padaMu..

Ya Rabb.. jadikan hamba yang mampu belajar seperti beliau yang seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini secara totalitas, diberikan untuk dakwah ini. Tiada yang membahagiakan selain tetap terjaga dalam ikatan iman dan senantiasa bersama saudara membangun jembatan Islam nan indah.

Ya Rabb.. semikanlah hati ini dengan  napas perjuangan, yang tak kan henti walau tantangan menghadang..

Izinkan diri ini menjalankan perintahMu semurni-murninya dan kumpulkan kami di SyurgaMu kelak bersama orang-orang yang berada di golongan para Anbiya dan Mursalin..

Jangan silaukan kami dengan kenyamanan dunia yang ternyata melenakan..

Jangan biarkan diri ini terlena dengan nikmatMu di Bumi sakuraMu ini yang ternyata tidak mendekatkanku padaMu..

Dekatkanlah diri ini padaMu, jagalah Ya Rabb.. Hanya kepadaMu hamba berlindung..

Before Maghrib@sebuah sudut di Bumi Allah

-setelah percik ruh menggeliat di senja yang tenang-

Coretan tentang Waktu

Satu detik tanpa keyakinan

akan jadi satu detik tanpa keoptimisan

 

Satu menit tanpa gagasan

akan jadi satu menit tanpa ilmu dan dorongan

 

Satu jam tanpa aksi nyata

akan jadi satu jam tanpa manfaat

 

Satu hari tanpa kedisiplinan

akan jadi satu hari tanpa keberhasilan

Satu bulan tanpa perencanaan

akan jadi satu bulan tanpa peningkatan

 

Satu tahun tanpa target dan capaian

akan jadi satu tahun tanpa prestasi

 

Satu dasawarsa tanpa buah karya

akan jadi sepuluh tahun tanpa kesabaran

 

Satu dekade tanpa ketangguhan

akan jadi dua puluh tahun tanpa kedewasaan

 

Satu kali hidup tanpa arah dan cita-cita

akan jadi hidup tanpa makna dan harapan

 

Maka, apa arti dalam hidupmu:

 

Satu kali hidup ? Satu dekade? Satu dasawarsa?

Satu tahun? Satu bulan?

Satu minggu? Satu hari?

Satu jam? Satu menit?

Satu detik?

 

@Rupo Kenchoguchi 236

-2 days before Nyuugaku Shiken-