Archives

TENTANG KYOIKU MAMA, IRT & MADRASATUL ULA

Ada hal besar yang bisa kita petik dari salah satu faktor kemajuan Jepang, yang menjadi salah satu ekonomi terbesar di  abad ke-20, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM). Menilisik lebih dekat lagi, kualitas SDM-nya terlihat pada etika kerja karyawannya. Mereka ini lah yang menjadi mesin penggerak ekonomi Jepang melalui aneka perusahaan global dan multinasional dengan produk-produk kualitas dunia. Tipikal karyawan di Jepang dikenal disiplin, produktif, cakap, beretika, fokus, jujur dan etika moral positif lainnya.

Lalu bagaimana karyawan-karyawan beretika kerja terpuji ini dicetak? Apakah melalui sekolah dan universitas? Saat berkunjung ke Jepang, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef pernah terkesima dengan jawaban guru sekolah dasar di Jepang saat ia bertanya tentang bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.” Bangunan sekolah umum di Jepang tidaklah mewah bahkan ada yang dari luar terkesan sudah cukup tua, namun jika masuk ke dalam terlihat lantainya begitu bersih terawat, ruang kelas dan laboratoriumnya pun rapih dan bersih. Anak-anak terlebih dahulu membuka sepatu di genkan (pintu masuk utama) dan menggantinya dengan sandal khusus dalam ruangan sehingga lantai sekolah selalu bersih.

Jadi di Jepang, peran pembentukan karakter anak terutama terletak pada ibunya. Dengan menitipkan anak ke sekolah, bukan berarti semuanya bertumpu pada sekolah. Justru ibu-ibu mereka yang melakukan peletak dasar pembentukan kebiasaan, moral, dan etika dalam kesehariannya. Selama hampir tujuh tahun tinggal di Jepang, saya banyak menemukan keistimewaan etika anak-anak Jepang. Saat saya sedang hamil anak pertama, pernah suatu ketika saya mengantri bus Nishitetsu. Saat itu ada juga seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang tengah mengantri bus dengan ibunya. Tiba-tiba anak laki-laki itu mundur selangkah dan mempersilakan saya untuk naik ke bus terlebih dahulu. Rasa salut membuncah karena inisiatif itu dilakukan oleh seorang anak kecil. Meski baru berusia tujuh tahun, ia sudah memiliki sense of emphaty kepada orang lain, juga  awareness terhadap aturan moral bahwa bus di Jepang memberikan prioritas untuk orang hamil, orang sakit, manula dan cacat. Kalau ibunya yang mempersilakan saya untuk naik, mungkin tidak akan terlalu istimewa. Tapi seorang anak kecil yang memiliki inisiatif itu, ini baru luar biasa. Ini adalah penanaman nilai yang sangat nyata. Siapa gerangan yang berperan? Ibunya lah yang selama ini menemani sebagian besar waktunya.

Image result for kyoiku mama

Di Jepang, ada istilah kyoiku mama yang artinya educating mom atau ibu pendidik. Jadi seorang ibu bukanlah fokus pada pekerjaan rumah tangga saja atau mengasuh anak, tapi juga menjadi pendidik yang membentuk dengan detail pribadi anak. Hal ini akan berpengaruh pada masa depan si anak hingga sukses memasuki universitas unggulan dan sebagainya. Maka, menjadi ibu rumah tangga di Jepang, punya tempat istimewa di masyarakat. Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 menyebutkan bahwa 61% Ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya di luar rumah setelah anak pertama lahir. Sementara suami bekerja, seorang istri melakukan perannya secara profesional di rumah. Ia bisa dikatakan sebagai menteri dalam negeri yang mengatur urusan domestik termasuk bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sejak anak dilahirkan ia memiliki kedekatan yang intens dengan ibunya, di mana ibunya membimbing dengan sangat detail dan penuh kasih sayang. Dengan perhatian yang penuh, pikiran dan tenaga ibu yang terfokus, maka anak tumbuh menjadi pribadi yang cukup kasih sayang dan mudah untuk diarahkan perilakunya sehari-hari.

Biasanya kyoiku mama ini akan cukup puas saat mereka menghantarkan anaknya masuk ke universitas yang baik sebagai hasil dukungan dan bimbingan ibunya selama ini. Kyoiku mama ada juga yang bekerja di aneka sektor ekonomi namun sifatnya part time, sehingga anak-anak sudah bisa bertemu dengan ibunya di rumah saat mereka pulang sekolah. Namun, di era PM Shinzo Abe saat ini, dimana ada kebijakan womenomics sebagai bagian dari kebijakan Abenomics, para wanita didorong untuk masuk ke dalam dunia kerja untuk membantu meningkatkan perekonomian Jepang yang mulai turun di satu dekade terakhir ini. Dengan bekerjanya wanita, dianggap mereka memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dan meningkatkan PPN dan PPh.

Mindset Ibu Rumah Tangga di Indonesia

Di Indonesia, istilah ibu rumah tangga memang masih terbayang dengan image baju daster penuh peluh keringat. Setiap hari lelah melakukan aneka pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Jikalau konsep kyoiku mama yang menjadi mindset Jepang masuk ke dalam mindset ibu rumah tangga Indonesia, mungkin akan berubah image `ga keren` nya ibu rumah tangga.

Di Jepang sendiri, menjadi hal yang terhormat jika seorang wanita memutuskan menjadi kyoiku mama. Pemerintah pun sangat memberikan tempat khusus bagi mereka, karena menyadari peran penting mereka bagi pembentukan generasi bangsa. Pemerintah memberi dukungan dengan aneka support hingga ke level kelurahan dengan mengadakan aneka kegiatan pembacaan buku cerita secara rutin di kouminkan (public hall) untuk anak-anak, kelas-kelas ibu dan anak, banyaknya taman-taman bermain terbuka dan hal-hal lain yang memudahkan seorang ibu dalam melakukan aktivitas kosodate (pengasuhan anak).

Jika melihat ibu-ibu muda di Jepang dengan anak-anak kecil seusia balita dan SD, mereka pun tak tampak berantakan atau tak terurus. Tapi justru terlihat modis, cantik dan menikmati sekali kegiatannya. Mereka menjadi smart mom yang pandai mengurus rumah tanpa ada ART serta mengurus anak-anak-nya sekaligus mengurus dirinya. Karena mereka paham pekerjaan ini adalah pekerjaan profesional bagi mereka. Saya pernah ngobrol dengan teman Jepang yang merupakan seorang Ibu rumah Tangga, ia mengatakan bahwa dalam pikiran wanita Jepang tidak pernah terpikir untuk menyerahkan pekerjaan rumah ke orang lain. Sejak TK pun (bahkan sejak usia batita di rumah mereka) mereka telah terbiasa untuk mandiri sehingga tidak gagap lagi dengan aneka pekerjaan rumah.

Madrasatul Ula

Lebih dalam lagi jika kita menengok dalam kacamata Islam, seorang ibu memang memiliki fungsi sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anaknya. Ibulah yang paling awal dapat menanamkan aneka nilai yang baik kepada anak. Tidak hanya setelah anak lahir, tapi bahkan sejak dalam kandungan. Ia dapat mulai terstimulasi dengan diperdengarkan Quran yang mulia. Dilanjutkan dengan menanamkan nilai Iman, ibadah, akhlaq dan lainnya. Di sana ia bisa mengenal tuhannya, menyadari kebesaran-Nya, dan mulai mengarahkan perilakunya untuk keridhoan-Nya.

Apakah artinya anak-anak tidak perlu bersekolah? Sangat perlu untuk mengakomodir kebutuhan anak untuk bersosial dan memperoleh ilmu dari guru yang mumpuni di bidangnya. Namun mengirimkan anak ke lembaga sekolah hanyalah sebagai alat bantu pendidikan. Peletak awal moral, iman, dan kebiasaan-kebiasaan baik adalah orang tuanya, terutama ibunya di dalam rumahnya.

Bagaimana peran Ayah dalam Islam? Sedikit berbeda dengan konsep yang ada di Jepang. Ayah juga memiliki porsi yang penting tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dalam hal membentuk pribadi anak, terutama orientasi aqidahnya maupun kebiasaan ibadahnya. Seperti Quran surat Luqman menunjukkan betapa besar peran ayah dalam mengarahkan anak. Maka ibu dengan kelekatan emosional dan fisik kepada anak disertai ayah sebagai figur ideal yang bervisi, menjadi elemen penting dalam membentuk pribadi anak.

Dengan begitu, anak tidak hanya dibekali life skill untuk kesuksesan duniawi, tapi juga bekal iman yang ditanamkan sejak awal di dalam rumahnya sejak dini yang menjadi basic character mereka. Karena dengan iman yang kuat, mereka dapat menjadi apapun di masa depannya tanpa kehilangan arah. Oleh karena itu, ada tahun-tahun awal kehidupan anak yang memang tak tergantikan kecuali dengan mengisinya dengan asupan-asupan terbaik.

Mengenal tuhannya, mengenal diri dan agamanya, bukanlah dimulai sejak ia didaftarkan ke sebuah sekolah atau tempat mengaji. Tapi dari ibunya sebagai orang terdekatnya berkolaborasi dengan sang ayah. Dengan begitu, ia memiliki bekal yang asasi untuk hidupnya yang akan menghantarkan untuk sukses di kehidupan dunianya maupun akhiratnya. Maka peran ibunya adalah demikian besar pengaruhnya dalam hidup mereka. Oleh karena itu, being a mom is also a professional job. Sehingga seorang ibu perlu terus untuk belajar untuk meningkatkan ketaqwaannya, skill dan keilmuannya, dan tetap beraktivitas untuk kemanfaat bagi masyarakat tanpa mengenyampingkan perannya bagi anak dan keluarganya.

@Shirohama, Fukuoka

updated on May 17, 2017

Advertisements

Ganbarikko

Pagi ini saya menyaksikan rehearsal untuk Undokai (sports day) di TK anak saya, Shirohama Preschool yang akan diadakan 3 Oktober. Aah.. Takjub! Demikian lah setiap kali saya masuk melihat bagaimana masyarakat Jepang dalam keseharian. Teratur, buncahan semangat dan berjuang tanpa menyerah menjadi spirit utama mereka.

Terkesima ketika di pagi hari tadi beberapa anak berdiri menjadi perwakilan tiap kelas meneriakkan yel-yel yang sederhana namun terasa tertanamnya dalam keseharian mereka. Nakayoku ShimasuKorondemo nakimasen! Saigo made ganbarimasu! (kami akan akur satu sama lain! Walaupun jatuh tidak menangis! Berjuang sampai Akhir!). Tidak heran memang melihat anak-anak kecil di sini jika jatuh mereka bangun sendiri tanpa menangis, tanpa orang tuanya pun khawatir berlebihan. Karena mereka dilatih untuk bersabar dengan rasa sakit, dan bangkit sendiri. Kecuali rasa sakit yang memang tak tertahan, tentu orang tua akan segera menunjukkan empatinya. Dan setelah itu menenangkan dan menyemangatinya agar bangkit kembali.

Anak-anak yang sudah berbaris rapi per kelas dari kelas anak usia  satu, dua hingga lima tahun, lalu melakukan senam pemanasan penuh semangat. Setelahnya dilanjutkan dengan lomba berlari anak umur satu tahun yang telah berdiri dalam satu barisan. Takjub melihat anak-anak sekecil ini bisa dibuat begitu teratur dan mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Suasana ceria penuh semangat begitu terasa.

Dalam keseharian, Jepang yang memiliki kesan umum disiplin dan kaku, sebenarnya sangat humanis dan empatik. Menekankan akur satu sama lain dan anti untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Mereka menyebutkan aturan dengan jelas, mengingatkan jika ada hal yang tidak sesuai aturan namun menghargai setiap kemajuan setiap orang dalam belejar mengikuti disiplin yang ada. Semuanya dilakukan dengan suasana encouraging. Maka baik siswa maupun orang tua terdorong untuk menjalani kemajuan sedikit demi sedikit tanpa merasa terdiskriminasi. Setiap anak setiap hari diminta datang pada jam yang telah ditentukan yaitu sebelum 8.50 pagi, membawa perlengkapan yang dipakai hari itu. Mereka meletakkan sendiri sepatu, cangkir dan handuk kecilnya di tempat masing-masing yang telah tertera nama mereka. Begitu teratur dan mandiri.

Di sekolah ini ada anak-anak Jepang yang memang sudah terbiasa dengan tata cara keseharian Jepang. Namun banyak juga siswa asing yang perlu dari nol kembali mengikuti kebiasaan baru di sekolah. Dan saya rasa sekolah ini cukup berhasil membuat anak-anak asing ini mengikuti roda perputaran tata cara sekolah Jepang ini. Bukan dengan bentakan, paksaan untuk membuat mereka disiplin. Tapi dengan penghargaan atas kemajuan mereka sedikit apapun dalam mengikuti kebiasaan yang ada di sekolah. Sehingga tiap anak tidak merasa rendah ketika ia tidak sebaik yang lain. Dan mereka selalu bersemangat ke sekolah setiap hari karena suasana yang sangat encouraging, mendukung kemajuan diri mereka sepenuhnya. Saya rasa inilah yang disebut dengan Encouraging Education. Every kid is special, dan mereka dididik untuk menjadi seorang Ganbarikko (anak yang berjuang dengan semangat). Rasanya itulah yang menjadi salah satu hal penting yang perlu ditanamkan dalam usia dini, maka dalam hal apapun mereka akan berpikir positif untuk berjuang dan bisa melewati tantangan di tahun-tahun selanjutnya dalam fase hidup mereka.

 

Fukuoka, 31 Agustus 2016

-di sudut home office shirohama 37-