Archives

Serunya Menulis

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menuangkan curahan jiwa dan perasaan dalam tulisan..

Setelah berkunjung ke blog teman yang salut bgta deh dia bisa isi dengan konsisten.. dengan pengalaman2nya yang informatif.. jadi tergelitik juga untuk kembali menulis dan mengikat makna dari berbagai peristiwa yang dialami..

hmm.. di suatu sore, saya tiba-tiba terdorong datang ke acara FLP Bandung yang bertempat di selasar Salman ITB. Sebetulnya baru aja tau dr fb via hp bahwa di sore itu ada acara FLP di sana. Otomatis saya yang dari dulu sebenrnya uda pengen banget join jadi langsung menarik teman saya yang tadinya niat ketemuan untuk juga ikutan tu acara.Yang ternayta ada juga beebrapa gelintir anggotanya adalah alumni iT Telkom. Bahkan ketuanya adalah Kak Dedi Setiawan, eks- ketua DPm. wah wah.. . dunia sempit ya memang..

Meski hanya beberapa belas menit terakhir.. tapi luar biasa insight yang saya dapat. Beberapa bait puisi dibacakan oleh seorang dosen unpad, Bapak Irfan Hidayatullah, yang sudah kuduga.. akan selalu memiliki sentuhan berbeda dari lingkungan yang biasa saya temui selama ini di kampus teknik. Jadi selalu teringat dengan kata-kata Bapak kita Taufiq Ismail. Bahwa, membaca karya sastra akan dapat melembutkan hatimu.. menjadi lebih peka lagi dalam merasa..

Melatih otak kanan, dengan membaca dan menyelami sastra memang sangat menyenangkan.. di balik untaian kata yang metaforis, kita belajar memaknai suatu momen dengan ungkapan yang berbeda dan penuh kecerdasan. Indah sekali ya..

Maka saya selalu salut dengan orang-orang yang memiliki kecerdasan perasaan yang begitu peka yang mampu menjalin kata dengan begitu indah dan mengalir. Meski metafora-metafora itu sendiri tak ada pakemnya.. ungkapkan saja.. dan rasakan saja di hati.. wihh.. subhanallah..

Dunia sastra dan kepenulisan saya mulai selami ketika SMP, dimulai dari debut di lomba membaca cerpen Islami sejabotabek..  waktu itu saya membaca cerpen nya Helvy Tiana Rosa, yang judulnya Jaring-jaring merah. Saya meranin peran jadi Inong, wanita yang menjadi gila karena diperkosa oleh pihak yang semena-mena saat peritiwa GAM di Aceh.. seru bgt lombanya dan bingun juga kenapa koq bisa jadi juara I padahal waktu itu sy peserta paling anak bawang.. Tapi eniwei, kebahagiaan ketika bisa berempati memerankan peran orang lain. Belajar menjadi orang lain.. merasakan deritanya.. meski tidak real.. membuat kita lebih wise dan berjiwa luas..

Di SMA, masih bisa bersentuhan dengan sastra, meski belum bisa diminta ngarang fiksi.. hehe.. ga jago imajinasi kykny ya.. masih sempat gabung di tim teater untuk nyeimbangin otak kiri yang tampak dominan bangt saat itu.. teater mengajarkan banyak hal, termasuk yang paling saya ingat adalah bagaimana meditasi memfokuskan pikiran ke dalam sebuah imajinasi kondisi tenang yang membuat naik angkot di kondisi super panas pun masih bisa menjadi berasa seperti lagi di depan air terjun yang berasa sejuk.. the power of meditation.

Well, my literature experience in college bisa dikatakan cukup menyedihkan karena sulit sekali menemukan komunitasnya. khususnya teater. Dan memang kembali aktivitas otak kiri sangat mendominasi dan cukup melupakan hobi nyastra ini.. Tapi karena jiwa menulis yang sebenarnya masih bersemayam, maka jadilah sebuah buletin yang berjudul Princess Zahra. yang sebenarnya isinya kumpulan anak-anak yang suka nulis dan mau mendedikasikan untuk tulisan-tulisan islami. 3 edisi alhamdulillah bisa terbit.. puas banget bisa nelurin buletin byang meski kecil banget tp dibuat dengan perjuangan.. hehe.. ingat banget gimana DP bikin animasi dan komik, trus nyari sponsor yang lumayan lah bisa bikin rame tu buletinnya.

Hmm… rasanya, memang makna akan kita ikat jika kita mampu menuliskan. Begitu kalau kata Pak Hernowo.

Tetap semangat menulis.. untuk terus memberi makna..

@hikari bjs

-setelah terinspirasi-

Mau awet Muda? Yuk Menulis?

Saya ingat sekali ketika dulu pernah mulai terinspirasi menulis teringat kata-kata seorang sahabat, “Orang yang pandai berbicara, belum tentu pandai menulis. Padahal menulis itu powerful banget baik buat meruncingkan pemikiran penulis maupun untuk menyampaikan opini ke publik yang akan memberikan massive effect dengan waktu dan tenaga yang lebih efisien”. Baru mulailah saya mulai menuangkan tulisan berdasarkan buku-buku yang saya baca. Meski masih sedikit dan sangat amatir. Awalnya sulit memang. Awal memang hampir selalu sulit. English proverb says “Every beginning is hard”. Termasuk ketika menulis pun itu pula yang terasa. Bingung mau nulis apa.

Tapi based on experience dari para penulis,  they keep trying to influence us by saying “Menulis itu MUDAH”.

Itu menjadi sugesti yang masuk ke alam bawah sadar saya =p. Dan benar. Menulis itu mudah. Ikuti kata hatimu. Jangan terlalu pusing memikirkan gramatical error. Jujur aja. Hingga akhirnya tiap kalimat bisa mengalir dan terangkai dalam untaian kata yang padu.

Dan menurut saya, dunia blog memang merupakan media menulis yang menarik. Bisa menulis kapanpun dan mendapat feedback dari siapapun. Namun sayang, membuatnya menjadi amal yang konsisten memang sulit ya. Banyak faktor tentu. Bisa waktu. Bisa koneksi internet =). Bisa sedang sangat menjaga privacy. Dan yang paling bisa adalah.. karena lagi kurang inspirasi.

Kalo saya pribadi, mengkaitkan blog yang tidak ter-update, atau aktivitas menulis yang tergerus adalah karena inspirasi lagi mandek. Jadi tidak ada yang bisa dishare. Kalaupun ada, kepalanya sedang tidak fokus untuk merumuskannya ke dalam kata-kata tertulis. Padahal, sesibuk apapun, menulis bisa jadi aktivitas mengasyikkan karena si penulis akan mengalirkan apa yang mengganjal di hati maupun pikirannya. Sharing informasi adalah bentuk sedekah. Dan sedekah itu melegakan jiwa. Jadi tidak salah kalau ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa menulis satu kali sehari bisa mengurangi satu kerutan di wajah. Alias menghilangkan kesempitan jiwa yang terpancar di wajah. Jadi tidak berlebihan pula kalau aktivitas menulis ini membuat kita awet muda. Apalagi kalo ditambah jus buah lima gelas sehari dengan aneka jenis buah yang berbeda:P. yummy..

So, menulis memang tidak kompleks. Kemahiran menuliskan sesuatu yang sederhana akan berujung pada kemampuan mengkonstruksi pikiran dan menuangkannya dalam kata-kata verbal yang terstruktur. Yang akhirnya memudahkan juga dalam menulis tulisan yang levelnya lebih berat seperti esai ilmiah, tugas akhir, atau tesis sekalipun. Hmm.. yang pasti, kalo semangat menulis sedang membara, maka semangat membaca pun akan terdongkrak. Karena ini adalah knowledge sharing cyrcle. Membaca/mengamati-merenungi-mengamalkan-menulis. Dan mungkin, kalo semua orang menulis, cream anti-aging jadi ga laku kali ya.. 😀

Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya (Ali bin Abi Thalib RA)