Archive | September 15, 2016

Happy Mom Raises Happy Kids

Selama 4,5 tahun menjadi ibu, saya menemukan bahwa titik pertumbuhan utama seorang anak berawal dari seberapa bahagia si Ibu. Ibu yang tidak bahagia (unhappy mom) cenderung mengasuh anaknya dengan cara yang mengekspresikan rasa tidak bahagia dalam dirinya. Dan alhasil, si anak berada dalam lingkungan pengasuhan dengan energi negatif. Anak pun menjadi negatif  sejak masa kecilnya. namun ibu yang bahagia akan memberikan selalu energi positif ke anaknya, terus berpikir dan mengusahakan hal-hal terbaik untuk anak. Anak pun merasa bahagia berada dalam pengasuhan yang penuh kasih sayang dan penghargaan atas dirinya. Rasa senang dan bahagia ini akan memicunya untuk semangat bertumbuh, belajar hal baru, dan terus meningkat dari sebelumnya.

Namun apa paramater bahagia bagi seorang ibu? Bisa jadi berbeda-beda. Ada yang bahagia karena ia bisa berekspresi di luar rumah, ada yang bahagia dengan berada di dalam rumah, ada yang bahagia dengan materi yang lengkap di sekelilingnya, ada yang sudah bahagia dengan hidup sederhana, ada yang sudah merasa bahagia dengan bisa melihat suaminya semangat bekerja,  ada yang bahagia melihat suaminya setiap hari shalat shubuh ke mesjid dan lain-lain.

Dari sekian banyak parameter, ada benang merah yang akan sama di setiap ibu, yaitu  Achievement. Bahasa mudahnya, pencapaian. Seorang ibu akan merasa bahagia ketika ia bisa mencapai sesuatu. Achievement itu bisa jadi sederhana bisa jadi besar tergantung kadar seseorang. Yang penting ia tidak berada dalam kondisi stagnansi, tanpa karya, tanpa perbaikan, tanpa progress.

Ada banyak sisi yang berada dalam lingkup bahagia. Karena sumber bahagia adalah hati seseorang, di mana hati hanya bisa tenang dengan mengingat RabbNya, maka sisi Ruh  atau jiwa seorang ibu memiliki pengaruh yang utama sebelum yang lainnya. Seorang ibu yang sebelumnya jauh dari mengingat Allah, melupakan shalat, ketika ia mulai kembali menggelar sajadahnya, ia akan merasa ada achievement luar biasa dalam dirinya bahwa ia bisa kembali melakukan kebaikan itu. Hatinya akan tersirami dengan kebahagiaan dan cahaya Ilahi, yang sebelumnya suram dan hanya dipenuhi kesibukan dunia.

Seorang ibu yang sebelumnya sudah terbiasa menjaga shalat, akan merasakan peningkatan ketika ia bisa menambah kualitas ibadahnya dengan tilawah, shalat malam dsb. Ia yang sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah sunnah ini pun akan bertambah kebutuhan jiwanya akan sesuatu yang lebih, mungkin ia akan mulai serius menghafal Al-Qur`an. Dan dari sana jiwanya akan lebih tercerahkan lagi. Semakin meningkatlah kadar kebahagiaannya. Dan ia semakin merasa tercukupi dengan bahagia ukhrowi ini, tidak dikhawatirkan dengan kekhawatiran dunia. Karena ternyata Allah sudah mencukupkan kebutuhan jiwanya dan memudahkan urusan dunianya. Inilah kebahagiaan jiwa yang hakiki. Kebahagiaan karena rasa optimis yang muncul dari spiritualitas.

Sisi kedua yang sangat penting adalah achievement menjadi istri yang mendapat ridho suami. Karena rasa bahagia dalam rumah sangat tergantung bagaimana suami ridho kepada istrinya. Ketika di dalam rumah hak dan kewajiban suami istri terjaga dengan seimbang, dengan penuh rasa ikhlas sebagai bentuk ibadah pada Allah, maka akan timbul bahagia yang berawal dari ridho suami, dan membuahkan ridho Allah. Maka komunikasi yang harmonis, rasa saling pengertian dan saling mendukung di saat-saat sulit akan sangat menambah rasa cinta dalam keluarga. Ketaatan, akhlaq dan kasih sayang istri kepada suami akan makin membuat suami merasa tenang dan percaya bahwa anak-anak dan rumahnya akan tenang bersamanya.

Sisi lain yang mempengaruhi bahagia seorang ibu juga berada pada hal-hal terkait dengan passion-nya. Seorang ibu akan mengalami bahagia ketika bisa melakukan achievement pada bidang yang disukainya. Misalnya ia suka mengajar, atau senang menulis, atau menjahit, atau memasak, atau berwirausaha atau berorganisasi dan lain-lain. Meski ia melakukan yang terbaik untuk tanggung jawabnya di rumah dan ia pun tetap punya waktu untuk  bisa melakukan hobi atau passionnya, dan itu pun bisa mendukung kesuksesan perannya di dalam rumah sebagai ibu dan istri.

Namun ada juga hal atau skill yang sebelumnya tidak pernah dikuasai namun ia menjadi begitu bahagia ketika ia bisa mencapainya, yaitu misalnya skill memasak, skill membersihkan dan merapihkan rumah dengan efisien, skill mengatur keuangan, skill parenting, skill manajemen waktu yang efisien, dan skill baru lainnya yang terkait dengan teknis rumah tangga. Yang membuatnya merasa rutinitas di dalam rumah menjadi hal yang ringan dan tidak beban. Maka seorang ibu harus terus menambah ilmu dalam dirinya, menyambut dengan gembira setiap majelis ilmu dan kesempatan berdiskusi dengan yang lainnya. Dari sana lah jiwanya juga akan lebih tercerahkan dengan ilmu yang baru.

Sisi lain yang juga penting adalah porsi yang seimbang untuk ia bisa memberikan hak bagi jasmaninya, ia bisa mengatur waktu istirahatnya, makan dengan seimbang dan juga berolahraga (yang ini mungkin sambil mengerjakan pekerjaan rumah ya), refreshing dari rutinitas sehari-hari dengan jalan-jalan keluarga, bersilaturahim dengan keluarga dan teman, dan lain-lain.

Ibu adalah sumber kasih sayang bagi seorang anak. Matahari di setiap hari-harinya. Ibu yang jiwanya memancarkan bahagia akan memiliki stok kesabaran yang tak ada putusnya, dan membimbing anak-anaknya dengan energi terbaiknya. Rasa bahagia yang muncul dari anak-anak yang berhasil diasuhnya dengan kondisi terbaik yang ia bisa, akan memunculkan lagi kebahagiaan dan kesyukuran selanjutnya. Dan Semoga Allah terus menghadiahkannya dengan hasil yang membahagiakan di akhirat kelak.

16 September 2016

-in a happy morning at shirohama 37-