Instant Enterpreneurship vs Truly Enterpreneurship

Jika 4 persen saja dari penduduk Indonesia menjadi pengusaha, maka Indonesia akan bebas dari pengangguran. Saat ini, baru 0.18 % dari total penduduk kita berstatus pengusaha. Padahal negara-negara maju seperti USA, memiliki pengusaha 2% dari total penduduknya. Dan bahkan Singapore yang hanya terdiri dari 1 pulau kecil, 7 % nya adalah pengusaha sehingga kemakmuran begitu merata di negara ini.

Maka, mengutip perkataan Pak Ciputra dalam Workshop Program Mahasiswa Wirausaha 2009 di DIKTI, Jakarta, setelah beliau merenungkan lama tentang apa sebenarnya kunci pembangkit bangsa ini.. Pendidikan kah? banyak sekali orang Indonesia yang pintar bahkan diakui di dunia internasional. Namun masih saja indonesia belum sejahtera. Teknologi kah? Fase Indonesia saat ini bukanlah technlogy maker, maka kontribusi teknologi untuk mensolve problem major kita belum besar. Dalam fase negara berkembang seperti Indonesia, maka major problem yang dihadapi adalah tidak jauh dari masalah ekonomi masyarakat. Maka setelah beliau merenung, maka jawabannya menurutnya adalah Enterpreneurship. Dimana kita bayangkan saat ini banyak sekali lulusan perguruan tinggi pun lulus dalam keadaan bingung akan kemana. Maka diperlukan inisiatif-inisiatif kreatif di masyarakat yang dapat membuka kesempatan kerja dan menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja.

Namun, ide yang sangat memberi angin segar ini, tak selalu memperoleh perhatian sepenuhnya. Banyak sekali orang yang dielukan setelah sukses menjadi pengusaha namun saat dulu pertama kali ia memutuskan menjadi pengusaha, mungkin banyak ketidak yakinan dari orang sekitar yang terlontar bahkan cemoohan maupun cacian. Terutama jika ia berada di lingkungan akademis yang kuat yang ter-mind set setelah lulus kuliah harus bekerja dengan mapan di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional. Enterpreneurhip memang jalan yang tidak mudah. Every beginning is hard. Tapi memang keberhasilan itu tak dilewati di atas jalan yang mulus tanpa kerikil.

Wihh berat.. Honestly, secara filosofi, enterpreneurship memang berat. Jalan yang unik, yang berada di luar track yang normal dilakukan orang-orang pada umumnya. (berarti abnormal ya? hehe..) Jika Anda berbekal IP tinggi, prestasi segudang, tentu akan besar kesempatan untuk memperoleh posisi yang baik dengan salary yang mumpuni di perusahaan bonafid. Namun bukan itu yang dicari. Justru kepuasan ketika berkarya menciptakan sesuatu dan mengembangkan sesuatu, lebih mengasyikan daripada memperoleh sesuatu yang dengan cukup mudah diperoleh. Terlebih, enterpreneurship ini memang menyimpan sebuah solusi yang real bagi permasalahan bangsa. Bayangkan saja jika 30 persen saja lulusan perguruan tinggi bisa membuka lapangan kerja, maka berapa banyak orang-orang di luar sana yang akan tertolong hidupnya. Ribuan bahkan jutaan orang akan tertolong.

Rasanya ini lebih nikmat daripada kita terikat bekerja di sebuah perusahaan dan saat itu kita menikmati hasilnya untuk diri kita sendiri. Tapi di perusahaan yang Anda buat sendiri, maka selain Anda juga membangun aset ekonomi Anda, Anda juga membantu beberapa keluarga untuk bertahan hidup. Maka tak ayal lagi, enterpreneurship adalah jalan bagi Anda yang ingin berbuat lebih demi kemanfaatan. karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

Namun sekarang ini, ada beberapa paradigma yang perlu dirubah tentang bagaimana kita melihat enterpreneurship..

1. Kampanye Kaya Instan. Beneran tuh?

I should really underline here, that Enterpreneurship is not merely as a place for collecting money. Miris sekali saat ini banyak kampanye-kampanye yang tidak cerdas yang menggiring orang untuk berbisnis dengan cara instan dengan iming-iming kaya cepat. Baik di internet maupun praktik-praktik offline. Selama halal, apapun boleh dilakukan, tapi saya rasa berbisnis sangat sayang jika disempitkan artinya dengan sekedar mengumpulkan kekayaan dengan instan. Karena enterpreneurship adalah sebuah proses berjuang yang lebih mulia. Yang dengan usaha kita banyak value added dari produk yang ditawarkan. Banyak pula manfaat dan value yang tersemat di tiap layanannya. Maka nikmatilah enterpreneurship sebagaimana Anda menikmati hidup di dunia yang penuh berkah.

2. Enterpreneur don’t go to school.

Memang beberapa pengusaha ternama di dunia adalah hasil DO. Sebut saja Bill gates dan Steve Jobs. Memang ada yang belajar enterpreneurship dari instinct atau bakat alami. Sementara ada juga yang justru belajar dari apa yang dipelajari di bangku sekolah. Guyonan di sebuah talkshow mengatakan bahwa memang ada 3 tipe enterpreneur : 1. karena bakat, 2. karena kesadaran, 3. karena kepepet. Yang pasti saya yakin bahwa tiap tipe ini punya possibility yang sama untuk sukses di kemudian hari. Yang berbakat bisa memanfaatkan orang-orang berilmu untuk meningkatkan kualitas menajemen perusahaan. Orang-orang yang berilmu formal di sekolah pun (khususnya ilmu manajemen bisnis)  telah terbekali ilmu yang cukup untuk menjadi dasarnya dalam membangun perusahaan. Kalau dalam kaca mata saya, enterpreneur yang tidak ber-track record studi yang baik (punya pengalaman DO dsb) sangat dominan dalam kemampuan mengambil resiko. Dan memang seorang enterpreneur adalah orang-orang yang berani mengambil resiko dan melihat peluang-peluang yang tidak terbaca oleh orang lain. Namun jika ia pun dibekali ilmu formal yang mumpuni, maka saya pun yakin itu akan membantunya men step-up perusahaan dengan lebih sistematis dan terarah. Seorang enterpreneur juga memiliki keharusahan mempelajari ilmu manajemen (CEO mindset). Begitu pun seorang CEO, harus memiliki enterpreneur mindset yang visioner.

3. Enterpreneur tu santai dan ga kerja apa-apa.

Memang banyak saat ini campaign yang mengedepankan TIME FREEDOM yang mengisyaratkan kebebasan waktu di dunia enterpreneur. Memang itu sangat benar! karena kita lah yang akan men-set waktu kita sehingga Anda yang ibu-Ibu masih bisa bebas membesarkan dan mendidik anak-anak tanpa terikat jam kerja di kantor. Anda pun Bapak-bapak masih bisa menjalankan kegiatan Anda yang lainnya untuk bersosial dan sebagainya. Anda yang berkecimpung turut serta dalam kegiatan pembinaan pun masih banyak waktu yang bisa didedikasikan di sana. Namun bukan berarti bisnis Anda akan jalan dengan berpangku tangan saja. It equals with the effort u do. Berjuang untuk menstabilkan sistem dan membuatnya berkerja untuk Anda. It takes time, But the time freedom will indeed happen. Kedepankan work smart daripada work hard. Sehingga Anda masih bisa menikmati hari-hari Anda untuk kombinasi dengan hal-hal lain yang juga bermanfaat. Berolahraga, kegiatan sosial lingkungan, mendidik keluarga Anda, bersilaturahim ke kerabat, mengisi mentoring dan aneka kegiatan menyeru kepada kebaikan.

Sudahlah.. enterpreneurship terlalu mengasyikan untuk tidak dicoba..

Mulailah melangkah.. mulailah dari nol meski tak mudah. Tapi PASTI Allah akan menunjukkan jalanNya untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari kerihoanNya (lihat QS. Al-Ankabt:69)

Tak ada keberhasilan yang instan. Selamat menikmati the truly enterpreneurship..

Pantang Menyerah. Terus berkarya untuk umat..

@ corner of my enterpreneurship house..

HIKARI LANGUAGE CENTER

3 thoughts on “Instant Enterpreneurship vs Truly Enterpreneurship

  1. “Justru kepuasan ketika berkarya menciptakan sesuatu dan mengembangkan sesuatu, lebih mengasyikan daripada …”

    Kepuasan ketika berkarya… Hmm.. Itu yang sedang terbayang2 saat ini. Benar2 menghantui! 😆

    Terima kasih telah berbagi, bu Hikari.

    • Sama-sama Mba,, memahami apa yang sebenarnya kita sukai dan mewujudkannya dalam karya memang tidak selalu mudah, perlu dorongan yang kuat untuk benar2 menentukan kemana kaki akan melangkah.. tp setiap fase hidup adalah pembelajaran. just enjoy every single lesson..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s