Tips & Trik Beasiswa S2 Monbusho

(repost dan edited dari tulisan tahun 2010)

Kali ini saya ingin berbagi tentang proses menjalani seleksi beasiswa S2 Monbukagakusho (Kementerian Pendidikan Jepang) melalui program Research Student dan beberapa tips dan trik yang mungkin berguna. Alhamdulillah atas izin Allah, saat ini saya telah masuk dalam 41 orang kandidat di antara 5000-an peserta seleksi.

MENGAPA JEPANG?
Pergi ke Jepang selama setahun saat SMA dalam program pertukaran pelajar AFS adalah salah satu pengalaman paling luar biasa yang saya alami. Sebuah kesan yang sangat baik saya peroleh tentang negeri Jepang. Keindahan alamnya, kebersihan dan keteraturan masyarakat dan kotanya, disiplin masyarakatnya, teknologi dalam kesehariannya, dan fasilitas umum yang begitu nyaman membuat saya terkagum-kagum dengan negara matahari terbit itu. Maka, saya sempat berpikir kapan lagi saya dapat kesempatan untuk pergi ke sana. Maka,Jepang masuk dalam daftar negara yang saya tuju untuk jenjang S2. Sejak awal kuliah saya sudah membuat perencanaan tentang apa saja yang akan saya capai dalam 4 tahun termasuk perencanaan untuk melanjutkan S2. Karena saya sudah bertekad untuk S2 tanpa biaya dari orang tua, selama kesempatan beasiswa masih bertebaran dimana-mana maka sangat sayang jika tidak diambil kesempatannya.

TERUS GIMANA?
Prosesnya sederhana, hanya mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Cek infonya di website Kedutaan Besar Jepang :http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta.html
2. Persiapkan persyaratannya meliputi IPK minimal 3, TOEFL 550 atau Bahasa Jepang JLPT level 2, Sertifikat kesehatan, surat rekomendasi dari dosen atau kampus, prestasi pendukung.
3. Mengisi formulir yang tersedia. Tunggu panggilan.

Secara umum ada 3 tahap tes:
1. Seleksi Dokumen
Tahun lalu saya memasukkan aplikasi akhir Mei dan dipanggil untuk tes sekitar bulan Juli. Saat itu saya belum lulus kuliah, tapi untunglah tidak disyaratkan adanya ijazah ketika mendaftar seleksi. Yang penting kita sudah lulus pada bulan April tahun depannya.
2. Tes tulis bahasa Inggris dan Jepang
Selanjutnya adalah tes tulis bahasa Inggris dan Jepang. Peserta boleh mengerjakan keduanya atau minimal bahasa Inggris saja. Jika Anda memahami bahasa Jepang itu akan sangat menjadi poin plus. Jadi, persiapkan bahasa Jepang Anda meski pun masih dasar. Sewaktu SMA kebetulan saya mengantongi sertifikat JLPT level 2 setelah setahun pertukaran, ternyata ini sangat membantu. Tapi tenang saja, banyak di antara kandidat yang mengandalkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan bahasa Jepang seadanya. Enaknya seleksi beasiswa S2 adalah tidak ada tes eksakta seperti fisika atau kalkulus=)
3. Wawancara
Saya diwawancara oleh lima interviewer yang terdiri dari 3 orang Jepang dan 2 orang Indonesia. Pengantarnya bahasa Inggris tapi saya juga menggunakan bahasa Jepang untuk perkenalan dan menjawab beberapa pertanyaan (Tapi sebenarnya saya sudah lama sekali tidak menggunakan bahasa Jepang aktif). Apa yang ditanya ketika wawancara? Mereka lebih banyak menanyakan tentang rencana riset kita dan bagaimana beasiswa S2 ini akan terkait dengan goal kita di masa depan. Jadi, kita akan setahun riset dulu baru setelahnya S2 selama dua tahun. Nah, sebetulnya saya tidak sedemikian mempersiapkan riset yang terlalu wow. (Karena saya melihat rekan-rekan yang lain ada yang sudah membawa berkas terkait risetnya). Ketika ditanya riset, saya bermodalkan konsep yang ada di pikiran tanpa dokumen pendukung apapun. Bahkan, sebenarnya saya baru saja sampai pagi itu di kedutaan Jepang di Jl. Thamrin Jakarta karena baru saja mengikuti PIMNAS di Malang. Tapi saya tetap berangkat dengan santai dan pasrah saja.
Saya rencanakan akan meriset tentang e-commerce di Jepang yang sangat maju yang sejalan dengan Tugas Akhir saya. Maka, untunglah saya cukup ingat apa saja bagian dalam tugas akhir yang sedang digarap. Minimal saya menceritakan jurnal-jurnal yang menjadi dasar TA saya dan mengapa topik ini cocok untuk dipelajari di Jepang. Selain itu kita ditanya juga tentang kesiapan kita menghadapi dunia Jepang.
Jangan lupa bahwa kelancaran bahasa Inggris Anda pun akan sangat menentukan performa ketika interview. Disarankan bagi Anda untuk terus melatih bahasa Inggris aktif Anda selama masa kuliah S1. Jika Anda berkemampuan bahasa asing lainnya, itu juga akan sangat menjadi poin plus. (Lebih lengkapnya tentang tips sukses interview, bisa lihat di sini). Jurusan S2 yang dipilih sebaiknya yang sejalan dengan S1 Anda. S1 saya adalah Teknik Industri dan Saya memilih jurusan S2 Commerce and Management dengan gelar MBA karena berharap ini juga mendukung track saya di jalan entrepreneurship yang saya pilih.
Sebelumnya, saya juga sudah mengontak professor di Jepang via email. Ini juga akan menjadi faktor yang cukup penting. Sebaiknya Anda sudah mengontak professor jauh-jauh hari sebelumnya.

SEBAIKNYA..
1. Anda memilih jurusan S2 yang sejalan dengan jurusan S1 Anda.
2. Mempersiapkan bahasa asing Anda sejak dini.
3. Mempersiapkan track record yang mendukung (misalnya dari segi akademis, prestasi selama kuliah, pengalaman organisasi dan lain-lain).
4. Sudah mengontak professor terlebih dahulu.
5. Lengkapi persyaratan sebaik-baiknya.
6. Tetap berikhtiar dan berdo’a dengan maksimal. Semoga dipertemukan dengan takdir Allah untuk pergi kesana.
7. Terus berpositive feeling bahkan hingga di saat interview. Yakinlah bahwa prasangka Allah sesuai prasangka hambaNya.

Semoga dimudahkan. Tiada daya dan upaya kecuali karena kehendakNya, maka jalani prosesnya dengan ikhlas dengan menyandarkan semuanya kepadaNya.
Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina.. dari buaian hingga ke liang lahat..

 

Note: Perlu persiapan bahasa Jepang? hubungi Hikari Bridge untuk mengikuti Free Trial Online Class-nya.

visit :www.hikari-bridge.com64757_10152704350170265_1118165806_n.jpg

Happy Mom Raises Happy Kids

Selama 4,5 tahun menjadi ibu, saya menemukan bahwa titik pertumbuhan utama seorang anak berawal dari seberapa bahagia si Ibu. Ibu yang tidak bahagia (unhappy mom) cenderung mengasuh anaknya dengan cara yang mengekspresikan rasa tidak bahagia dalam dirinya. Dan alhasil, si anak berada dalam lingkungan pengasuhan dengan energi negatif. Anak pun menjadi negatif  sejak masa kecilnya. namun ibu yang bahagia akan memberikan selalu energi positif ke anaknya, terus berpikir dan mengusahakan hal-hal terbaik untuk anak. Anak pun merasa bahagia berada dalam pengasuhan yang penuh kasih sayang dan penghargaan atas dirinya. Rasa senang dan bahagia ini akan memicunya untuk semangat bertumbuh, belajar hal baru, dan terus meningkat dari sebelumnya.

Namun apa paramater bahagia bagi seorang ibu? Bisa jadi berbeda-beda. Ada yang bahagia karena ia bisa berekspresi di luar rumah, ada yang bahagia dengan berada di dalam rumah, ada yang bahagia dengan materi yang lengkap di sekelilingnya, ada yang sudah bahagia dengan hidup sederhana, ada yang sudah merasa bahagia dengan bisa melihat suaminya semangat bekerja,  ada yang bahagia melihat suaminya setiap hari shalat shubuh ke mesjid dan lain-lain.

Dari sekian banyak parameter, ada benang merah yang akan sama di setiap ibu, yaitu  Achievement. Bahasa mudahnya, pencapaian. Seorang ibu akan merasa bahagia ketika ia bisa mencapai sesuatu. Achievement itu bisa jadi sederhana bisa jadi besar tergantung kadar seseorang. Yang penting ia tidak berada dalam kondisi stagnansi, tanpa karya, tanpa perbaikan, tanpa progress.

Ada banyak sisi yang berada dalam lingkup bahagia. Karena sumber bahagia adalah hati seseorang, di mana hati hanya bisa tenang dengan mengingat RabbNya, maka sisi Ruh  atau jiwa seorang ibu memiliki pengaruh yang utama sebelum yang lainnya. Seorang ibu yang sebelumnya jauh dari mengingat Allah, melupakan shalat, ketika ia mulai kembali menggelar sajadahnya, ia akan merasa ada achievement luar biasa dalam dirinya bahwa ia bisa kembali melakukan kebaikan itu. Hatinya akan tersirami dengan kebahagiaan dan cahaya Ilahi, yang sebelumnya suram dan hanya dipenuhi kesibukan dunia.

Seorang ibu yang sebelumnya sudah terbiasa menjaga shalat, akan merasakan peningkatan ketika ia bisa menambah kualitas ibadahnya dengan tilawah, shalat malam dsb. Ia yang sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah sunnah ini pun akan bertambah kebutuhan jiwanya akan sesuatu yang lebih, mungkin ia akan mulai serius menghafal Al-Qur`an. Dan dari sana jiwanya akan lebih tercerahkan lagi. Semakin meningkatlah kadar kebahagiaannya. Dan ia semakin merasa tercukupi dengan bahagia ukhrowi ini, tidak dikhawatirkan dengan kekhawatiran dunia. Karena ternyata Allah sudah mencukupkan kebutuhan jiwanya dan memudahkan urusan dunianya. Inilah kebahagiaan jiwa yang hakiki. Kebahagiaan karena rasa optimis yang muncul dari spiritualitas.

Sisi kedua yang sangat penting adalah achievement menjadi istri yang mendapat ridho suami. Karena rasa bahagia dalam rumah sangat tergantung bagaimana suami ridho kepada istrinya. Ketika di dalam rumah hak dan kewajiban suami istri terjaga dengan seimbang, dengan penuh rasa ikhlas sebagai bentuk ibadah pada Allah, maka akan timbul bahagia yang berawal dari ridho suami, dan membuahkan ridho Allah. Maka komunikasi yang harmonis, rasa saling pengertian dan saling mendukung di saat-saat sulit akan sangat menambah rasa cinta dalam keluarga. Ketaatan, akhlaq dan kasih sayang istri kepada suami akan makin membuat suami merasa tenang dan percaya bahwa anak-anak dan rumahnya akan tenang bersamanya.

Sisi lain yang mempengaruhi bahagia seorang ibu juga berada pada hal-hal terkait dengan passion-nya. Seorang ibu akan mengalami bahagia ketika bisa melakukan achievement pada bidang yang disukainya. Misalnya ia suka mengajar, atau senang menulis, atau menjahit, atau memasak, atau berwirausaha atau berorganisasi dan lain-lain. Meski ia melakukan yang terbaik untuk tanggung jawabnya di rumah dan ia pun tetap punya waktu untuk  bisa melakukan hobi atau passionnya, dan itu pun bisa mendukung kesuksesan perannya di dalam rumah sebagai ibu dan istri.

Namun ada juga hal atau skill yang sebelumnya tidak pernah dikuasai namun ia menjadi begitu bahagia ketika ia bisa mencapainya, yaitu misalnya skill memasak, skill membersihkan dan merapihkan rumah dengan efisien, skill mengatur keuangan, skill parenting, skill manajemen waktu yang efisien, dan skill baru lainnya yang terkait dengan teknis rumah tangga. Yang membuatnya merasa rutinitas di dalam rumah menjadi hal yang ringan dan tidak beban. Maka seorang ibu harus terus menambah ilmu dalam dirinya, menyambut dengan gembira setiap majelis ilmu dan kesempatan berdiskusi dengan yang lainnya. Dari sana lah jiwanya juga akan lebih tercerahkan dengan ilmu yang baru.

Sisi lain yang juga penting adalah porsi yang seimbang untuk ia bisa memberikan hak bagi jasmaninya, ia bisa mengatur waktu istirahatnya, makan dengan seimbang dan juga berolahraga (yang ini mungkin sambil mengerjakan pekerjaan rumah ya), refreshing dari rutinitas sehari-hari dengan jalan-jalan keluarga, bersilaturahim dengan keluarga dan teman, dan lain-lain.

Ibu adalah sumber kasih sayang bagi seorang anak. Matahari di setiap hari-harinya. Ibu yang jiwanya memancarkan bahagia akan memiliki stok kesabaran yang tak ada putusnya, dan membimbing anak-anaknya dengan energi terbaiknya. Rasa bahagia yang muncul dari anak-anak yang berhasil diasuhnya dengan kondisi terbaik yang ia bisa, akan memunculkan lagi kebahagiaan dan kesyukuran selanjutnya. Dan Semoga Allah terus menghadiahkannya dengan hasil yang membahagiakan di akhirat kelak.

16 September 2016

-in a happy morning at shirohama 37-

 

 

 

KYOIKU MAMA VS IBU RUMAH TANGGA

Ada hal besar yang bisa kita petik dari salah satu faktor kemajuan Jepang, yang menjadi salah satu ekonomi terbesar di  abad ke-20, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM). Menilisik lebih dekat lagi, kualitas SDM-nya terlihat pada etika kerja karyawannya. Mereka ini lah yang menjadi mesin penggerak ekonomi Jepang melalui aneka perusahaan global dan multinasional dengan produk-produk kualitas dunia. Tipikal karyawan di Jepang dikenal disiplin, produktif, cakap, beretika, fokus, jujur dan etika moral positif lainnya.

Lalu bagaimana karyawan-karyawan beretika kerja terpuji ini dicetak? Apakah melalui sekolah dan universitas? Saat berkunjung ke Jepang, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef pernah terkesima dengan jawaban guru sekolah dasar di Jepang saat ia bertanya tentang bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.” Bangunan sekolah umum di Jepang tidaklah mewah bahkan ada yang dari luar terkesan sudah cukup tua, namun jika masuk ke dalam terlihat lantainya begitu bersih terawat, ruang kelas dan laboratoriumnya pun rapih dan bersih. Anak-anak terlebih dahulu membuka sepatu di genkan (pintu masuk utama) dan menggantinya dengan sandal khusus dalam ruangan sehingga lantai sekolah selalu bersih.

Jadi di Jepang, peran pembentukan karakter anak terutama terletak pada ibunya. Dengan menitipkan anak ke sekolah, bukan berarti semuanya bertumpu pada sekolah. Justru ibu-ibu mereka yang melakukan peletak dasar pembentukan kebiasaan, moral, dan etika dalam kesehariannya. Selama sekitar enam tahun pengalaman tinggal di Jepang, banyak menemukan istimewanya etika anak-anak Jepang. Di suatu waktu saat penulis sedang hamil anak pertama, mengantri bus Nishitetsu. Ada juga seorang anak laki-laki usia sekitar 7 tahun yang tengah mengantri bus dengan ibunya. Tiba-tiba anak laki-laki itu mundur sekitar selangkah dan mempersilakan penulis untuk naik ke bus terlebih dahulu. Rasa salut membuncah karena inisiatif itu dilakukan oleh anak kecil. Ia sudah memiliki sense of emphaty kepada orang lain, juga  awareness terhadap aturan moral bahwa bus di Jepang memberikan prioritas untuk orang hamil, manula dan cacat. Kalau ibunya yang mempersilakan penulis untuk naik, mungkin tidak akan terlalu istimewa. Tapi seorang anak kecil yang memiliki inisiatif itu, ini baru luar biasa. Ini adalah penanaman nilai yang sangat nyata. Siapa gerangan yang berperan? Ibunya lah yang selama ini menemani sebagian besar waktunya.

Image result for kyoiku mama

Di Jepang, ada istilah kyoiku mama yang artinya educating mom atau ibu pendidik. Jadi seorang ibu bukanlah fokus pada pekerjaan rumah tangga saja atau mengasuh anak, tapi juga menjadi pendidik yang membentuk dengan detail pribadi anak. Hal ini akan berpengaruh pada masa depan si anak hingga sukses memasuki universitas unggulan dan sebagainya. Maka, menjadi ibu rumah tangga di Jepang, punya tempat istimewa di masyarakat. Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 menyebutkan bahwa 61% Ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya di luar rumah setelah anak pertama lahir. Sementara suami bekerja, seorang istri melakukan perannya secara profesional di rumah. Ia bisa dikatakan sebagai menteri dalam negeri yang mengatur urusan domestik termasuk bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sejak anak dilahirkan ia memiliki kedekatan yang intens dengan ibunya, sehingga ibunya membimbing dengan sangat detail dan penuh kasih sayang. Dengan perhatian yang penuh dan pikiran dan tenaga ibu yang terfokus, maka anak tumbuh menjadi pribadi yang cukup kasih sayang dan mudah untuk diarahkan perilakunya sehari-hari.

Biasanya kyoiku mama ini akan cukup puas saat mereka menghantarkan anaknya masuk ke universitas yang baik sebagai hasil dukungan dan bimbingan ibunya selama ini. Kyoiku mama ada juga yang bekerja di aneka sektor ekonomi namun sifatnya part time, sehingga anak-anak sudah bisa bertemu dengan ibunya di rumah saat mereka pulang sekolah.

Mindset Ibu Rumah Tangga

Di Indonesia, istilah ibu rumah tangga memang masih terbayang dengan image baju daster penuh peluh keringat. Setiap hari lelah melakukan aneka pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Jikalau konsep kyoiku mama yang menjadi mindset Jepang masuk ke dalam mindset ibu rumah tangga Indonesia, mungkin akan berubah image `ga keren` nya ibu rumah tangga.

Di Jepang sendiri, menjadi hal yang terhormat jika seorang wanita memutuskan menjadi kyoiku mama. Pemerintah pun sangat memberikan tempat khusus bagi mereka, karena menyadari peran penting mereka bagi pembentukan generasi bangsa. Pemerintah memberi dukungan dengan aneka support hingga ke level kelurahan dengan mengadakan aneka kegiatan pembacaan buku cerita secara rutin di public hall untuk anak-anak, kelas-kelas ibu dan anak, banyaknya taman-taman bermain terbuka dan hal-hal lain yang memudahkan seorang ibu dalam melakukan aktivitas kosodate(pengasuhan anak).

Jika melihat ibu-ibu muda di Jepang dengan anak-anak kecil seusia balita dan SD, mereka pun tak tampak berantakan atau tak terurus. Tapi justru terlihat modis, cantik dan menikmati sekali kegiatannya. Mereka menjadi smart mom yang pandai mengurus rumah tanpa ada ART serta mengurus anak-anak-nya sekaligus mengurus dirinya. Karena mereka paham pekerjaan ini adalah pekerjaan profesional bagi mereka.

Jadi para ibu rumah tangga Indonesia, menyadari peran besarmu bagi pembentukan anak-anak aset bangsa, marilah menjadi kyoiku mama yang smart dan senantiasa optimis!

 

Ganbarikko

Pagi ini saya menyaksikan rehearsal untuk Undokai (sports day) di TK anak saya, Shirohama Preschool yang akan diadakan 3 Oktober. Aah.. Takjub! Demikian lah setiap kali saya masuk melihat bagaimana masyarakat Jepang dalam keseharian. Teratur, buncahan semangat dan berjuang tanpa menyerah menjadi spirit utama mereka.

Terkesima ketika di pagi hari tadi beberapa anak berdiri menjadi perwakilan tiap kelas meneriakkan yel-yel yang sederhana namun terasa tertanamnya dalam keseharian mereka. Nakayoku ShimasuKorondemo nakimasen! Saigo made ganbarimasu! (kami akan akur satu sama lain! Walaupun jatuh tidak menangis! Berjuang sampai Akhir!). Tidak heran memang melihat anak-anak kecil di sini jika jatuh mereka bangun sendiri tanpa menangis, tanpa orang tuanya pun khawatir berlebihan. Karena mereka dilatih untuk bersabar dengan rasa sakit, dan bangkit sendiri. Kecuali rasa sakit yang memang tak tertahan, tentu orang tua akan segera menunjukkan empatinya. Dan setelah itu menenangkan dan menyemangatinya agar bangkit kembali.

Anak-anak yang sudah berbaris rapi per kelas dari kelas anak usia  satu, dua hingga lima tahun, lalu melakukan senam pemanasan penuh semangat. Setelahnya dilanjutkan dengan lomba berlari anak umur satu tahun yang telah berdiri dalam satu barisan. Takjub melihat anak-anak sekecil ini bisa dibuat begitu teratur dan mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Suasana ceria penuh semangat begitu terasa.

Dalam keseharian, Jepang yang memiliki kesan umum disiplin dan kaku, sebenarnya sangat humanis dan empatik. Menekankan akur satu sama lain dan anti untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Mereka menyebutkan aturan dengan jelas, mengingatkan jika ada hal yang tidak sesuai aturan namun menghargai setiap kemajuan setiap orang dalam belejar mengikuti disiplin yang ada. Semuanya dilakukan dengan suasana encouraging. Maka baik siswa maupun orang tua terdorong untuk menjalani kemajuan sedikit demi sedikit tanpa merasa terdiskriminasi. Setiap anak setiap hari diminta datang pada jam yang telah ditentukan yaitu sebelum 8.50 pagi, membawa perlengkapan yang dipakai hari itu. Mereka meletakkan sendiri sepatu, cangkir dan handuk kecilnya di tempat masing-masing yang telah tertera nama mereka. Begitu teratur dan mandiri.

Di sekolah ini ada anak-anak Jepang yang memang sudah terbiasa dengan tata cara keseharian Jepang. Namun banyak juga siswa asing yang perlu dari nol kembali mengikuti kebiasaan baru di sekolah. Dan saya rasa sekolah ini cukup berhasil membuat anak-anak asing ini mengikuti roda perputaran tata cara sekolah Jepang ini. Bukan dengan bentakan, paksaan untuk membuat mereka disiplin. Tapi dengan penghargaan atas kemajuan mereka sedikit apapun dalam mengikuti kebiasaan yang ada di sekolah. Sehingga tiap anak tidak merasa rendah ketika ia tidak sebaik yang lain. Dan mereka selalu bersemangat ke sekolah setiap hari karena suasana yang sangat encouraging, mendukung kemajuan diri mereka sepenuhnya. Saya rasa inilah yang disebut dengan Encouraging Education. Every kid is special, dan mereka dididik untuk menjadi seorang Ganbarikko (anak yang berjuang dengan semangat). Rasanya itulah yang menjadi salah satu hal penting yang perlu ditanamkan dalam usia dini, maka dalam hal apapun mereka akan berpikir positif untuk berjuang dan bisa melewati tantangan di tahun-tahun selanjutnya dalam fase hidup mereka.

 

Fukuoka, 31 Agustus 2016

-di sudut home office shirohama 37-

Dua Cahaya Kecilku di Februari

Bulan Februari 2016.

Ada yang sangat spesial di bulan ini. Karena ada dua cahaya yang Allah kirimkan dalam hidup; Muhammad Kazuya Elfatih (Fatih) dan Abdurrahman Hiroshi Attaqiy (Taqiy). Fatih genap berusia 4 tahun tanggal 9 yang lalu, dan Taqiy genap berusia 1 tahun tanggal 24 yang lalu.

Tak disangka, di dalam panjangnya perjalanan roadmap kehidupanku, ada dua cahaya kecil yang Engkau anugerahkan. Mereka kecil karena memang mereka masih balita, tapi pun mereka adalah cahaya yang memberikan diri ini banyak hikmah dan pelajaran. Di antara list planning dan achievement dalam hidup, dua cahaya kecil ini seperti elemen yang `unpredictably exist`. Mengapa? Karena memiliki anak, menjadi ibu, adalah pemberian Allah yang extremely new things dan membuat saya (dan suami) jadi `merekonstruksi` planning-planning dalam hidup. Mengapa? Karena mereka begitu istimewa. Ada dua manusia baru yang dititipkanNya yang bukanlah sekadar amanah harta, atau benda mati lainnya, tapi amanah manusia yang bertumbuh dan memiliki masa depannya. Maka ada hak-hak dua cahaya kecil yang saya harus prioritaskan daripada hak-hak saya sendiri. Ada planning-planning dalam hidup yang saya sesuaikan demi tumbuh kembang terbaik mereka. Hmm.. jadi teringat bagaimana kisah cacing merah yang bergerak mendatangi Nabi Daud, ternyata cacing itu bisa berbicara dan ia diperintahkan Allah untuk bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir 1000 kali di siang hari, serta bershalawat 1000 kali di malam hari. Subhanallah, bahkan hewan kecil saja Allah berikan makna sedemikian tinggi, yaitu untuk berdzikir pada Allah. Apalah lagi dengan dua manusia baru yang kehadiran mereka memiliki potensi sangat besar untuk memberatkan kebaikan di muka bumi ini. Dan saya lah yang Engkau berikan amanah menjadi ibu dari dua ruh Elfatih dan Attaqiy ini. Maa syaa Allah..

Di antara achievement duniawi dan amanah dalam hidup yang Engkau gariskan untukku selama ini, amanah dua cahaya kecil ini tampaknya yang memiliki makna sangat dalam bagi akhiratku kelak. Ya, karena mereka ini adalah titipanMu yang akan ditanyakan setelah matiku kelak. Mereka inilah investasi akhiratku yang dengan do`a-do`a mereka tak akan putus hingga setelah matiku, yang dengan keshalihan mereka, diri ini bisa terselamatkan di akhirat kelak. Maka achievement besar yang Engkau anugerahkan adalah jika mereka kelak termasuk ke dalam golongan orang shalih, yang Engkau anugerahkan syurga.

Ada kekhawatiran terkadang merayap dalam hati ini, bagaimanakah mereka kelak di masa depan? Bagaimana akhirat mereka kelak? Namun, membaca tuntunan Rasulullah yang dikutip di buku Prophetic Parenting membuat diri lebih lega, yaitu untuk membantu mereka berbakti. Kata membantu di sini berarti kita berikan mereka jalan, arahan, menyediakan sarana dan dukungan agar mereka menjadi orang yang  berbakti kepada Allah, rasulNya dan kepada orang tuanya. Bukan menuntut mereka untuk berbakti, tetapi membantu mereka. Kepada Allah saja kita menyerahkan hasil dari apa yang telah kita usahakan. Saat ini yang bisa kulakukan adalah menjadi ibu terbaik mereka dan senantiasa berucap do`a kebaikan. Namun ibu yang masih papa dalam ilmu dan amal ini, masih perlu terus belajar tuk mereguk ilmu, menebalkan bekal taqwa dan bahan bakar kesabaran. Robbi hablii minassholihiin.. Ya Rabb, jadikanlah mereka termasuk dalam golongan orang yang shalih.. Dekatkan mereka dengan Qur`an sehingga mereka senantiasa dekat denganMu.. Bukakan hati dan pikiran mereka dengan ilmu Islam, sehingga mereka memahami diri mereka dan berbahagia di dunia dan akhiratnya.. aamiin..

Mas Fatih dan Dek Taqiy, ummi yang masih jauh dari sempurna ini, yang ikhtiarnya masih begitu sedikit ini, hanya bisa bergantung pada Allah akan masa depanmu kelak, di dunia dan akhirat.

otanjoubi omedetou anak2ku! barakallahu fii umrikum..

 

 

12-12-13

Apa arti angka di atas? Itu adalah tanggal hari ini. betl Sekali. Tak ada yang spesial sebetlnya dengan tanggal ini. Tapi saya rasa tak ada hari yang tidak spesial, karena Allah sudah menghadiahkan kita hidup pada tanggal ini. Dan artinya, tidak lah pantas tiap hari lewat tanpa ada karya berarti untuk kehidupan. sebagai bentuk syukur kita kepada Allah.

Soooo,, berhubung sepertinya jatah hadiah Allah kepada saya dan keluarga kecil saya di Jepang hanya tinggal sepuluh bulan lagi. Siapkanlah banyak oleh2!! yaituuu tlisan pemikiran di blog ini ttg what I can learn from Japan for Indonesia!!

Milestone Bahtera Cinta II: Nol = Tak Hingga

Alhamdulillahirobbil`alamiin..    

Puji serta syukur selalu terhaturkan untuk Ilahi Rabbi, Allah SWT. Yang masih memberikan nikmat kelapangan untuk menuliskan hikmah yang diajarkanNya.

Kali ini saya menulis dengan senyum mengembang penuh rasa damai seraya memandangi sesekali wajah damai buah hatiku Muhammad Kazuya Elfatih. Fatih, demikianlah ia dipanggil. Kedua orang tuanya yang sangat papa ilmu dan amalnya ini berharap, semoga ia bisa menjadi seorang yang yang berakhlaq mulia seperti Rasulullah SAW, serta bisa menjadi anak pertama yang membawa kedamaian (Kazuya dalam kanji bhs jepang :和哉)serta menjadi seorang pembuka (Fatih dalam bahasa Arab) misalnya seperti Muhammad AlFatih, penakluk Konstantinopel yang cerdas, pemberani, serta memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah SWT. Aamiin Ya Rabb..

Jika di tulisan sebelumnya masih mencantumkan foto bayi lain, maka kali ini fotonya telah menemani tulisan ini. Alhamdulillah rasa penasaran hati ini terjawab sudah untuk bisa melihat seperti apakah dirimu, nak. Penasaran Ummu Fatih ini terjawab ketika akhirnya tanggal 9 Februari 2012 pkl 05.57 pagi lalu ia hadir ke dunia. Di Fukuoka Red Cross Hospital (福岡赤十字病院)dibantu dr. Spog. Matsushita Sensei dan Josanfusan (bidan)  Iribe.

Izinkan saya menuliskan tentang segores hikmah yang terpetik dalam proses kelahiran yang semakin menguatkan keyakinan akan kekuatan Allah ini.

Sejak tanggal 8 memang sudah terasa kontraksi sesekali namun masih cukup lemah. Maka saya dan suami memutuskan untuk tidak menelfon RS dulu agar tidak perlu ditolak dan harus pulang ke rumah kembali. Dan karena memang tgl 9-nya memang sekalian jadwal kontrol ke RS, maka berangkatlah kami menuju RS dengan chikatetsu (subway-red) ke stasiun Tenjin dan dilanjutkan dgn Bus ke Halte Niseki Mae (日赤前バス停). Saya datang dengan genki dan ceria yang ternyata membuat heran Matsushita Sensei yang tenyata menemukan saya dalam keadaan pembukaan 2-3 cm. `Honto ni itakunai no (betulan tidak sakit)?` tanyanya heran. Saya bilang `chotto dake desune`, entah ini memang saya yang agak kebal dengan rasa sakitnya atau memang kontraksinya tidak begitu sakit. Lalu di cek dengan CTG pun monitoring selama 20 menit menunjukkan adanya kontraksi yang datang teratur selama 20-30 detik setiap 5 menit sekali. wah, berarti ini betulan sudah tanda-tanda mau melahirkan..

Maka pukul dua siang pun saya mulai dirawat. Saya dan suami masuk ke ruang persiapan bersalin (準備室). Saya mulai mengabari kawan2 by sms dan meminta doa untuk kelancaran proses ini. Ternyata di jam 4 sore dokternya kembali mengecek dan masih pembukaan 2. Aku banyak berjalan kaki di koridor RS untuk mempercepat turunnya bayi ke mulut rahim dan mempercepat pembukaan. Namun hingga jam 1 malam bidan mengecek masih juga pembukaan 2. Sementara kontraksi itu datang teratur tiap 5 menit sekali. Kontraksi adalah kondisi dimana dinding rahim menegang dan mulut rahim membuka perlahan. Ketika kontraksi datang, untuk mengurangi rasa sakit, kita diharuskan mengambil nafas panjang dan melepaskannya secara teratur. Ini juga untuk membantu bayi agar tetap mendapat oksigen yang cukup saat kondisi rahim menegang. Rasa sakitnya luar biasa (saya pun sekarang sudah lupa tepatnya).  Untunglah suami diizinkan menemani di ruangan.

Menurut info seorang kawan yang seorang dokter, memang pembukaan 2-4 terutama untuk anak pertama akan lama, waktunya tidak bisa diprediksi. Dan pembukaan 4-10 berlangsung relatif cepat yaitu sekitar 1 sampai 2 jam per 1 cm nya, alias 6-12 jam. Artinya entah besok atau lusa kontraksi ini akan terus berlangsung hingga akhirnya pembukaan lengkap dan bayi lahir. Masha Allah.. sakitnya kontraksi yang berulang-ulang teratur bahkan makin kuat membuat aku berpikir tentang sakitnya azab Allah kelak.. `jika kontraksi ini saja sedemikian sakitnya maka bagaimana kelak siksaMu di akhirat Ya Rabb` Ya Allah.. hamba merasa sangat tak berdaya saat itu. Setiap kali kontraksi datang ada rasa takut kembali datang dan saya kembali mengatur nafas seraya menyebut `Allah..Allah..`. Kehadiran suami di sisi juga semakin menguatkan. sesekali aku berjalan ke sekitar tempat tidur dan pergi ke toilet untuk sejenak melupakan rasa sakit. Namun tak tau entah kapan berakhirnya proses ini. Kontraksi semakin terasa. Semakin kuat. Ada titik dimana hati ini hampir menyerah, dan hati berucap `cukup, tolong hentikan..`. Tapi di tengah ketidakberdayaan hamba, tak ada lagi yang bisa dilakukan saat itu selain menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. `Hamba yakin Engkau bisa melakukan apapun dengan agungnya kekuatanMu`, ucapku dalam hati. Diri ini sangat kecil, sangat lemah di hadapan Allah Yang Maha Besar. Ia yang telah menciptakan janin dalam rahim ini, maka mudah pula baginya untuk membuatnya lahir kapanpun. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Pukul 03.30, rasa sakit makin tak tertahankan maka kutekan tombol Nurse-Call. Seketika Suster Iribe datang dan mengecek. Masha Allah.. ternyata sudah pembukaan 6! Kami semua takjub! Harapan kembali membuncah dengan penuh suka. Bersiap untuk kontraksi yang lebih dahsyat hingga pembukaan 10. Alhamdulillah dengan instruksi Suster Iribe untuk menjaga nafas ketika kontraksi datang, rasa sakit menjadi terasa lebih ringan. Suami shalat tahajud. Menemani ruh ini berjuang. Kembali aku tekan tombol. Setelah dicek ternyata pembukaan 8. Subhanallah.. Melihat suami yang sedang shalat, Suster Iribe bertanya, `ima oinori no jikan desuka (apakah sekarang jadwal shalat)?`. Aku jawab, `Bukan, tapi di waktu ini adalah salah satu waktu terbaik doa kita didengar olehNya`. `a, naru hodo ne (O, saya paham)`, ucapnya. Beberapa saat kemudian ketuban pecah dan air keluar begitu banyak. Ternyata sudah pembukaan 9! Excited bercampur dengan berbagai rasa lainnya. tak berapa lama kemudian, ternyata sudah pembukaan sepuluh sekitar ukul 4 pagi. Allahuakbar! Alhamdulillah.. Aku dan suami begitu berpegangan erat penuh syukur. Namun belum selesai. Justru perjuangan selanjutnya baru akan dimulai di ruang bersalin.  aku harus menahan agar tidak mengejan dan tidak berteriak. karena teriakan artinya kita mengeluarkan energi, dan ini akan menekan bayi di perut yang terus berkontraksi teratur. Bayi bisa tertekan di dalam. Suster Iribe yang teranyata sudah 4 tahun menjadi perawat dan bidan memang begitu cekatan dan sangat baik memberi panduan. Di Jepang ini, para bidan terlebih dahulu harus lulus sekolah perawat.

Pkl 4.15, masuklah saya ke ruang bersalin (分娩室). Iribe-san dan satu org suster sudah mempersiapkan ruangan. Alhamdulillah suami menemani di samping saya. Saya berbaring di kursi khusus bersalin dan memulai proses persalinan Fase II (mendorong hingga bayi keluar) dibantu instruksi Iribe-san. Saat itu rasanya tenaga sudah sangat sedikit setelah melewati malam yang penuh kontraksi. Namun, tak ada pilihan lain Hanya satu hal: Bayi ini harus LAHIR! Maka Bismillah hanya Engkaulah sumber segala kekuatan! Proses mengejan terus dilakukan. Dokter datang di sekitar 10 menit terakhir. Akhirnya setelah sekitar satu setengah jam, ia lahir!! suara tangisnya diiringi ucapan Alhamdulillah Ummi Abinya dengan rasa lega yang teramat sangat. Saat itu waktu terasa berhenti berputar, jarum jam pun tidak  bergerak. Perjuangan panjang usai sudah. MashaAllah, alhamdulillaah.. ia lahir dengan sehat. Betapa sempurna ciptaanNya.. Setelah dibersihkan, suster meletakannya di sisiku. Lalu Abinya mengumandangkan adzan di telinganya. Subhanallah.. Selamat datang mujahid kecilku..Semoga dunia akan bertambah bobot kebaikannya dengan kehadiranmu..

Lahirnya engkau ke dunia adalah peajaran Allah utuk ummi-nya tentang bermujahadah, serta pelajaran Allah untuk yakin akan kekuatanNya yang tanpa batas yang mampu menolong siapaun yang dikehendakiNya. Maka teruslah bertumbuh, nak, dengan ruh pejuang sebagai mana engkau dilahirkan… Semoga Allah senantiasa membimbingmu dengan Ma`rifat padaNya… aamiin..

.
“Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh .Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan “ (QS. Luqman:22)

@hakozaki 6-2-8-101号